Prof Thomas Pentury Memberikan Kuliah Umum Mahasiswa STT IKAT

Jakarta, kilometer.co.id. STT IKAT kembali menggelar kuliah umum yang dinisiasi oleh Program Pasca Sarjana, mengangkat tema Moderasi Agama Pada Era Milenial pemateri Prof. Thomas Pentury Direktur Jendral Departemen kementerian Agama, Selasa  (6/8) di Kampus STT IKAT, Bintaro Jakarta Selatan. Nampak Ketua STT IKAT Pdt Dr Jimmy Lumintang, Direktur Pasca Sarjana Pdt. Dr Jimmy Poli dan pimpinan STT IKAT dan seluruh civitas akademi lainnya.

Dalam salah satu paparannya,  Prof Dr Thomas Pentury menegaskan untuk mencapai mutu pendidikan  yang baik ada sembilan kriteria sesuai BAN PT sebelumnya tujuh standar instrument, yang harus dipenuhi perguruan tinggi sesuai regulasinya, namun terang mantan Rektor Universitas Patimura Ambon ini, setidaknya minimal dua hal wajib dimiliki STT yaitu terkait standar sumber daya manusia meliputi dosen dan jajarannya dan ketersediaan sarana infrastruktur kampus.

Artinya  untuk “BAN PT mensyaratkan sembilan kriteria dari  sebelumnya tujuh standar instrumen. Tak usah semua tujuh dulu ya, saya minta minimal dua dipenuhi yaitu ketersedian SDM dan sarana infrastruktur pendukung,” tutur Professor Matematika ini sembari menambahkan itu penting dengan tujuan menjaga standar mutu pendidikan tinggi. Di mana setidaknya sebuah perguruan tinggi menyelenggarakan program doktor wajib minimal ada dua professor yang sesuai bidangnya dan tercatat di Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT). Semua harus datanya terekor baik.

Kritiknya, jangan kita selalu mengandalkan mukzijat, enam bulan kuliah sudah dapat gelar Master, luar biasa. Semua harus ada proses dan standarnya. Ada STT yang di black list di Jakarta karena pernah menerima mahasiswa pindahan dari Nias langsung diberi ijazah. Saat dia jadi ketua DPRD ijasahnya diperiksa tak ada terdaftar di pemerintah,” bebernya mengingatkan betapa tidak bertanggung jawab penyelenggara pendidikan tinggi. Thomas Pentury juga menyinggung bahwa setidaknya tiga area dalam pendidikan tinggi Kristen  harus diperhatikan yaitu area objektivitas (data ilmiah), area subjektivitas (sarana) dan irisan area di tengahnya nilai, etika dan moral.

Fakta selanjutnya, kata Doktor lulusan ITS ini bahwa anak-anak milenial perlu dilibatkan dalam pelayanan di gereja sehingga mereka antausias ikut peribadahan di gereja. Ia menyoroti gereja-gereja umumnya mainstream yang masih kurang melibatkan pemudanya sehingga kerap pemudanya mencari gereja yang sesuai dengan mereka. “Saya kira tugas gereja dan lembaga pendidikan Kristen sama-sama memikirkan solusinya dan menjawab tantangan untuk memenangkan anak milenial,” tegasnya.

Karena itu, Prof Thomas Pentury meminta pelaku Pendidikan Kristen untuk menjawab tantangan anak muda milenial termasuk mengevaluasi bahan ajar atau materi kuliah yang disesuaikan dengan perkembangan  era Revolusi Industri 4.0. “Anda semua yang ada di ruangan ini beruntung belajar ilmu agama. Saya sering  bilang  ke diri saya, ngapain saya harus belajar matematika? Kalau suruh hitung, lebih cepat calculator. Sekarang masuk ke sistem semua bisa dihitung semua termasuk dengan biaya kalkulasi. Maka dari itu nanggalah bahwa Anda memilih belajar Agama,” ujarnya mensuport mahasiswa teologia, yang diiringi tepuk tangan.

Meski demikian, Ia mewanti-wanti harus belajar pada proses yang benar. Ada standar yang utama yang kita kerjakan. Yang utama adalah harus belajar sama Yesus Kristus. Dia guru yang luar biasa. “Saya berharap pendidikan STT IKAT harus punya standar mutu dan lebih penting lagi harus bisa berdampak. Tetaplah menyelenggarakan proses pendidikan dengan baik dengan standar mutu yang tinggi,” ajaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *