Menguras Air Mata dalam Film Horas Amang

Kilometer.co.id Jakarta`Tergerusnya nilai-nilai adat dan budaya dalam keluarga belakangan ini memang sangat memprihatinkan. Bagaimana sebuah keluarga sudah jarang berkomunikasi langsung, kalaupun berkumpul masing-masing asyik dengan Gagednya. Berangkat  dari semangat membangun kembali arti dalam keluarga maka PRAMA GATRA FILM mengangkat kembali bagaimana sebuah keluarga bisa tetap rukun saling memperhatikan dan peduli satu sama lainnya, yang digambarkan dari sebuah Film berjudul Horas Amang.

Horas Amang sebuah film besutan sutradara Steve Watania yang skenarionya ditulis oleh Ibas Saragih dengan Asye Sieregar sebagai produser. Sedangkan para pemain dalam film tersebut actor kawakan Cok Simbara, Piet Pagau dengan pemain utama Tata Ginting, Novita Dewi Marpaung, Jack Marpaung, Rizma Simbolon,   dan masih banyak lagi.

Film Horas Amang menurut sang sutradara diangkat dari sebuah lakon theater, dan kisahnya ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan dan hati bagi penonton.

Diceritakan bagaimana perjuangan seorang ayah dalam bahasa Batak disebut Amang diperankan Cok Simbara dia harus berjibaku mendidik, menanamkan nilai-nilai budaya yang luhur dalam membesarkan tiga anak-anaknya sendirian. Maruli, Pardamean dan satu putrinya bernama Tarida, itulah anak-anaknya Amang. Beruntung ada adik perempuan sang ayah namboru dan anak gadisnya Nauli yang diperankan Rizma Simbolon yang sigap membantu dalam membesarkan putra-putrinya.

Sayang ketiga anak-anaknya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sehingga melupakan sang ayah yang begitu rindu untuk kebersamaan. Hingga saat ulang tahun sang ayahpun tak sempat mereka merayakannya.

Film Horas Amang suatu kisah yang dibumbui cerita jenaka ini memang lebih banyak membuat penontonnya berderai airmata. Seperti para awak media sore itu yang diajak nonton bareng Film Horas Amang, Joe Macpal sekalipun bukan asli Batak tetapi dengan kisah itu seketika teringat ayahnya , yang membuatnya menangis.

Nonton bareng yang diselenggarakan di Epicentrum Kuningan Senin (23/09/2019). Sutradara film Steve Wantania asli kawanua ini menceritakan bahwa bintang utama film ini Cok Simbara benar benar menghayati film ini hingga proses cut screen Cok Simbara masih meneteskan airmatanya ungkapnya pada awak media.

Steve Wantania mengatakan “Film ini bersifat universal karena mengangkat permasalahan keluarga yang tinggal di kota besar dengan lingkungan yang berbeda dengan budaya asalnya dalam hal ini masyarakat Batak. Film ini tentang ayah yang mendidik anaknya. Jangan sampai sudah hidup di kota besar terus lupa sama sopan santun adat istiadat dan tugas.

Produser film Horas Amang, Jufriaman Saragih, mengatakan bahwa film itu memang akan kental dengan budaya Batak. Bahkan, para pemeran utamanya juga benar-benar berdarah Batak. Shooting film Horas Amang akan dimulai di Danau Toba dan Pulau Samosir, Sumatera Utara, pada 3 Februari 2019. Meski kental nuansa Batak, ia menuturkan film tersebut bukan hanya ditujukan untuk orang Batak. Alasannya, karena pesan moral mengenai nilai adat dan budaya bersifat universal, cocok untuk semua masyarakat Indonesia. Khususnya perantauan.

“Kita menyampaikan bahwa film ini memiliki pesan moral yang bisa diterima oleh beragam kalangan. Jadi enggak cuma Batak, tapi film ini adalah film nusantara,” kata Steve Wantania selaku co produser film Horas Amang

“Kami menggunakan soundtrack ‘Anakku Naburju’. Ada juga beberapa lagu asli Batak, dengan musik gondang. Kami akan menjaga betul-betul khas Bataknya,” ucap Steve Wantania. Jufriaman Saragih menambahkan bahwa film yang diangkat dari naskah milik Ibas Aragi itu diharapkan akan mampu mengajak generasi muda untuk kembali kepada keluarga dan budaya.

Dari penuturan Asye Siregar salah satu sponsor film ini yang kami kutip dari Tabloid Suara Batak mengatakan “Semula kisah dalam film ini diadopsi dari sebuah pertunjuan teter yang sukses di tahun 2016. Pementasan ceritanya dilakukan oleh teater Legiun, dan saat itu meraih sukses besar. Kemudian satu satu sponsor sangat tertarik untuk memfilemkan karena kental dengan dengan budaya Batak. Dalam perjalannya terdapat banyak kendala dan baru terealisir tahun ini,” ungkap Asye Siregar.

Sedangkan Rizma Simbolon yang sangat dekat dengan wartawan ini menuturkan keikutsertaannya dalam Film Horas Aamang ini, Rizma Simbolon memang sudah pernah main film tetapi belum sempat ditayangkan kalau masalah acting sudah biasa karena beberapa kali sudah bermain di sinetron.

“Saya merasakan keajaiban terjun layar lebar dan beruntung banget bisa mendampingi Cok Simbara yang dipanggilnya sebagai tulang atau paman”, tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *