Peran Media Massa Menjaga Kebebasan Beribadah dan Berkeyakinan.

Bekasi kilometer.co.id Data yang dilansir katadata menyebutkan menurut Edelman Trust Barometer Global Report 2022, saat ini tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap media berada di peringkat kedua tertinggi di dunia.

Tingkat kepercayaan ini melebihi negara-negara lain dan justru sedang mengalami penurunan pada 2022.
Tingkat kepercayaan terhadap media di Indonesia tercatat sebesar 73%. Angka ini naik 1 poin dibandingkan tahun lalu. Sementara, peringkat pertama diduduki oleh Tiongkok dengan persentase 80%. India dan Thailand sama-sama berada di peringkat ketiga dengan 66%.(sumber https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/21/ternyata-mayoritas-masyarakat-indonesia-percaya-dengan-media).

Dan Survei Katadata Insight Center (KIC) dan Kemenkominfo menunjukkan televisi menjadi sumber media yang paling dipercaya untuk mendapatkan informasi. Ada 47% responden yang menjawab televisi sebagai media yang mereka percayai.

Media sosial berada di peringkat kedua dengan kepercayaan dari 22,4% responden. Televisi dan media sosial mengungguli situs resmi pemerintah yang dipercayai 17,9% responden.

Selanjutnya, berita online dipercayai 8% responden, 1,9% responden tidak mengakses informasi sama sekali, 1,8% percaya media cetak, 0,7% percaya radio, dan 0,4% tidak percaya media apapun.

Survei ini dilakukan terhadap 10.000 responden di 34 provinsi Indonesia pada 4-24 Oktober 2021. Responden merupakan anggota rumah tangga berusia 13-70 tahun dan mengakses internet dalam tiga bulan terakhir.

Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error +/- 0,98% pada tingkat kepercayaan 95%.

(Baca: Survei KIC: Mayoritas Masyarakat Andalkan Internet untuk Klarifikasi Berita Hoaks)

Dari hasil penelitian di atas bisa kita simpulkan bahwa media massa dibutuhkan publik untuk informasi. Yang menarik platform medsos menunjukkan trend signifikan dalam publik mencari informasi. Dan ada kepercayaan tinggi juga dari publik untuk informasi yang beredar dari medsos.

Lantas bagaimana media massa dalam menulis berita peristiwa KBB?

Dalam sebuah loka karya yang diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) 8-10 Agustus 2022 yang lalu memberi pelatihan kepada 26 jurnalis tentang penulisan berita berperspektif KBB.

Dalam pelatihan peserta diberikan pemahaman tentang KBB, informasi pelanggaran KBB, cara penulisan berita KBB dan bagaimana pemberitaan turut membantu menyelesaikan soal bukannya menimbulkan polemik.

Dalam Loka karya juga disampaikan tantangan jurnalis menghadapi derasnya informasi melalui platform media sosial (medsos).

Meski UU Pers nomor 40 tahun 1999 sudah mengatur profesionalisme Pers dan Wartawan namun pada kenyataannya masih ada saja berita yang tidak berperspektif KBB. Tentu banyak faktor yang menjadi sebabnya.

SEJUK sebagai lokomotif pemberitaan Perspektif KBB telah merumuskan bagaimana penulisan yang tepat untuk isu KBB. Melalui pelatihan kepada jurnalis, bagian dari sosialisasi dan menambah kemampuan jurnalis dalam melihat, mencari dan menulis berita isu KBB.

Dengan demikian maka peran media massa dalam menjaga KBB dapat dijalankan secara profesional tanpa merugikan siapapun. Sebab hakikatnya jurnalis atau wartawan terdepan dalam memperjuangkan kepentingan publik atau rakyat. Penulis : Endharmoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *