PGLLI DiPercaya Sebagai Tuan Rumah Penyelenggara Pekan Doa Sedunia Dalam Wadah FUKRI

Kilometer.co-Jakarta-Pekan Doa Sedunia 2021 dilangsungkan di  Graha Karmel, Grand ITC Permata Hijau, Jl. Letjen Supeno, Permata Hijau, Jakarta Selatan, Senin, 18 Januari 2021. Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia di daulat sebagai tuan rumah oleh Forum Umat Kristen Indonesia dan tahun ini mengangkat temai  “Tinggallah di dalam KasihKu (Yoh 15:1-7) , maka kamu akan Berbuah banyak.”

Perayaan Pekan Doa Sedunia 2021 diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, mengingat Jakarta menerapkan PSBB kembali karena adanya peningkatan pasien Covid-19, barang tentu kondisi ini menambah keprihatinan, belum lagi diawal tahun 2021 terjadi musibah dan bencana yang melanda Indonesia baik pesawat jatuh, gunung meletus,tanah longsor dan banjir bandang. Kondisi inilah yang membuat acara doa sedunia berlangsung hikmat dan khusyuk.

Suasana pelaksanaan doa dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan parade pasangan pembawa panji bendera dari 8 Aras Gereja Nasional antara lain: KWI, Balai Keselamatan, GMAHK, GOI, PBI, PGLII, PGPI dan PGI. Pekan Doa Sedunia diikuti sekitar 60 orang, perwakilan dari berbagai aras hadir di GKRI Karmel, Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Untuk menjangkau yang lebih luas, disediakan juga layanna Live Zoom, Youtube dan Facebook, sehingga anggota-anggota aras gereja bisa mengikuti dari seluruh Indonesia maupun luar negeri turut serta bergabung. Reli doapun dipanjatkan dengan tiga sesi doa dengan diaelingi saat teduh dan kidung pujian, kemudian yang diakhiri dengan menyalakan lilin bersama.

Kemudian secara berturut-turut tampil tokoh dam pimpinan aras memberikan sambutan. Dimulai dengan Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro yang langsung menyampaikan rasa suka citanya atas berlangsung Pekan Doa untuk FUKRI.

“Ut Omnes Unum Sint, agar supaya kita menjadi satu. Kita berdoa supaya kita bersatu di tengah pandemi covid. Dengan doa melepaskan kekuatiran kita kepada Tuhan. Dalam doa kita pasrahkan kepasa Tuhan, pencipta alam semesta. Allab Bapa senantiasa mengasihi anak-anaknya,” tuturnya sembari mengakhiri dengan memimpin doa bersama.

Senada dengan itu, Dirjen Bimas Kristen Prof. Dr. Thomas Pentury juga menyambut baik diselenggarakannya Pekan Doa Sedunia oleh FUKRI. Malam ini, FUKRI bukan hanya dapat berdiskusi tapi juga menyelenggarakan doa bersama, harus kita apresiasi.

“Saya meyakini memulai segala sesuatu doa karena tanpa doa kita tidak bisa menghadapi permasalahan hidup. Termasuk pandemi Covid-19. Saya kira FUKRI menyelanggarakan pekan doa sedunia ingin menggumuli permasalahan dunia. Dengan doa kita bisa menyelesaikan permasalahan dunia,” tutur mantan Rektor Universitas Pattimura ini.

Kemudian secara berturut-turut tampil dari PGI, BK, GMAHK, GOI, PBI, PGPI dan ditutup oleh tuan rumah PGLII. Ketua Umum PGLII Pdt. Dr. Ronny Mandang menyampaikan bahwa Pekan Doa Dunia sudah menjadi tradisi tahunan yang dijalankan bersama oleh Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) yang diselengarakan secara bergiliran. Dan tahun 2021 ini, PGLII dipercaya menjadi tuan rumah.

“Meski di tengah pandemi Covid-19 dan penerapan PSPB yang ketat, kami (PGLII) bisa menyelenggarakan acara ini dengan baik. Kami di FUKRI sudah sepakat membatasi acara untuk mematuhi prokes. Ya meski tadi ada sedikit kendala di live streamingnya, tetapi puji Tuhan bisa berjalan dengan baik,” tutur pendeta yang murah senyum ini.
Disampaikan Gembala GKRI Karmel Permata Hijau ini, Pekan Doa Sedunia adalah tradisi WCC yang diadopsi dan dijalankan di Indonesia oleh FUKRI.

“Lewat doa kita percaya hanya membawa doa kepada Tuhan, bahwa segala permasalahan yang melanda dunia (termasuk Covid-19) bisa dihindari karena Tuhan ikut campur. Lewat doa kita membawa ke pertobatan. Intinya biar Tuhan saja yang menyelematkan umatnya dari setiap rintangan dan masalah yang ada,” ujarnya.

Sesuai tema tahun ini, kata Mandang, bahwa umat Tuhan harus berbuah, hanya jika tinggal dalam kasih Tuhan maka akan menghasilkan buah yang banyak.

Menarik di tengah acara, ada pagelaran para pemuda-pemudi menggunakan baju tradisionil Nusantara mengitari bola dunia besar, bergandeng tangan dan menyalakan lilin.

“Atraksi kecil tadi, adalah simbol dari umat Tuhan yang senantiasa dituntut memancarkan terangnya di dunia. Memancarkan kasih Tuhan di lingkungan sekitar dan di tengah keluarga,” tutup Pendeta Ronny Mandang sembari mendoakan agar masyarakat Indonesia dan juga dunia bisa terbebas dari ancaman Covid-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *