PEWARNA Menghadirkan Para Legium Veteran RI Mengajak Kembali Mempelajari Kiprah Perjuangan

Kilometer-Jakarta Menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 76 tahun, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) menggelar rangakian wawancara dengan tema Masa Lalu Dalam Dinamika Perjuangan. Tema ini ungkap Yusuf Mujiono Ketum PEWARNA sengaja diangkat untuk lebih mencintai kembali negara tercinta.

Untuk mencintai maka lanjut Yusuf perlu mengetahui dari mana bangsa ini berdiri serta bagaimana saat para pendahulu mendirikan dan memerdekan negara. Dengan mengetahui tentang masa lalu diharapkan menjadi bekal dan kaca benggala bagi generasi sekarang yang masih mewarnai perjalanan bangsa maupun masa depan para generasi mudanya.

Agar mendapatkan informasi yang utuh minggu pertama pada hari Rabu 4/8/21 dalam program enam puluh menit bersama PEWARNA menghadirkan narasumber sebagai pelaku sejarah malam itu  hadir para Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) dengan  narasumbernya Mayjen TNI (Purn) Bantu Hardjijo WAKETUM DPP LVRI dan Pdt. Brigjen (Purn) Harsanto Adi, sebagai KETUM Asosiasi Pendeta Indonesia (API) yang juga seorang purnawiran. Sementara Ashiong Munthe  litbang Pewarna memandu jalannya wawancara tersebut. Selain waketum LVRI hadir Ketua Umum LVRI Mayjen (Purn) Saiful Sulun serta para pengurus daerah LVRI.

Indonesia ada ini tidak terlepas dari sejarah yang panjang memasuki kemerdekaan Indonesia yang ke-76 tahun, di mana sebagai bangsa Indonesia perlu untuk merefleksikan sejarah masa lalu untuk dijadikan sebagai pembelajaran agar tidak melupakan identitasnya sekaligus sebagai bekal masi kini dan ke depan.

Bantu Hardjijo selaku WAKETUM DPP LVRI, menjelaskan terkait organisasi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang tugas utamanya yaitu melaksanakan pelestarian daripada jiwa semangat dan nilai kejuangan 45.

“Tugasnya kita yaitu melanjutkan jiwa semangat dan kejuangan ini kepada generasi muda supaya mereka bisa mempertahankan dan mengisi usaha yang telah dilaksanakan oleh senior-senior dalam memerdekakan negara ini,” ungkapnya.

Bantu Hardjijo sendiri menceritakan mengenai pengalaman berkesan di masa-masa perjuangan yang dialami, yakni pada masa Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada tahun 1964 sampai 1966 yang ditugaskan sebagai pasukan dalam memimpin 7 orang untuk masuk ke Malaysia.

“Pada waktu itu tujuan kami yaitu supaya tentara mereka tidak terkonsentrasi ke wilayah Singapura dan Johor saja tapi harus dipecah untuk ke sebelah utara,” jelasnya. Bantu Hardjijo menambahkan bahwa “Pada waktu itu terjadi clash dimana 4 anggota saya ketinggalan di sana dan 1 orang langsung meninggal. Tapi alhamdulilah saya bisa kembali,” ungkap Bantu. Ada juga pengalaman yang tidak terlupakan disampaikan oleh Bantu Hardjijo ketika berada di Irian, dimana 3 hari tidak makan waktu mengejar Lodewijk Mandatjan.

Melihat kondisi pada masa tersebut yang kerap kali terjadi peperangan, Harsanto Adi selaku KETUM API memberikan pandangannya terkait akar dari peperangan tersebut terjadi,

“Saya lihat ini masalah hanya dalam negeri saja, dimana kita lihat adanya perbedaan pendapat atau ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat sehingga terjadinya pemberontakan tersebut”. Lanjutnya, “kalau peperangan antar negara saya pikir itu terjadi karena masalah-masalah perbatasan dan permasalahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya konflik,” jelasnya.

Dibalik pemberontakan yang terjadi, ada pengalaman menarik yang disampaikan Bantu Hardjijo ketika berada di Ambon.

“Waktu itu pertama kali saya ke Ambon dan kita tahu bahwa Ambon daerahnya dibagi dua,daerah Islam dan Kristen,” ungkapnya.

Bantu Hardjijo melakukan upaya perdamaian antar dua daerah ini, dimana Bantu Hardjijo diperintahkan oleh Menko untuk mengumpulkan 100 orang Islam dan 100 orang Kristen dan melakukan berbagai upaya-upaya perdamaian. Sehingga ini menjadi hal bagaimana mengupayakan perdamaian.

” Itu yang menjadi hal yang mengesankan buat saya karena pengalaman ini bisa kita gunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi saat ini juga,” ungkap Bantu.

Pada masa perjuangan, kedekatan antara pemimpin dengan rakyat jelas sekali sangat dekat. Namun ketika ditelusuri dalam sejarah, ada pemberontakan yang terjadi seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII), menunjukan bahwa pada masa itu ternyata tidak solid.

Meresponi hal itu Bantu Hardjijo menegaskan hal tersebut terjadi karena Belanda selalu memanfaatkan situasi dan berusaha untuk memecah belahkan.. Lanjutnya, “tentara kita dipaksa harus keluar dari wilayah yang dikuasai Belanda, sehingga terjadinya kekosongan dan pada kondisi itulah dimanfaatkan Kartosoewirjo untuk memproklamirkan Negara Islam Indonesia,” jelasnya.

Pada akhir diskusi, Bantu Hardjijo menyampaikan mengenai dukungan sikap terhadap pemerintah dalam menangani permasalahan COVID-19.

“Marilah kita bersatu dalam mengatasi pandemi ini. Ini seruan dan sikap kita, untuk bersama bergotong royong membantu rakyat kecil sesuai dengan kemampuan kita masing-masing,” ungkapnya.

Sedangkan Harsanto Adi dalam penutupnya menyampaikan harapan terkait adanya pembuatan film-film perjuangan yang dapat membangkitkan semangat anak muda. Letnan Jenderal TNI (Purn) Syaiful Sulun selaku Ketua Umum LVRI turut menyampaikan pesan penutup, “Dalam memajukan negeri ini, kuncinya yaitu bersatu. Kita harus bersatu dan hanya berlandaskan pada Pancasila,” tutupnya. Arnad.

Sementara Letjen purn Saiful Sulun yang turut hadir mengajak agar bangsa ini tetap mempertahankan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman, Maka kalau saat masih terjadi upayamengutak-atik kembali dasar negara sebagai pejuang sangat prihatin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *