Media Harus Bangun Hubungan Dengan Publiknya

Kilometer Bandung Hubungan langsung dengan audiens atau pembaca dinilai penting bagi media di tengah penurunan traffic akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Media dan jurnalis didorong mulai membangun hubungan langsung dengan pembaca melalui komunitas, diskusi, serta pendekatan berbasis kebutuhan audiens atau user needs model.

“Bagaimana wartawan ingin dipercaya publik kalau medianya sendiri tidak kenal siapa publiknya,” kata Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMS) Wahyu Dhyatmika saat menjadi pembicara dalam kegiatan Kelas Jurnalis HAM bertajuk Media Pers Pilar Penting Pembangunan Peradaban HAM di Indonesia di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (21/5).

Menurutnya, pihak yang dapat menyelamatkan keberlangsungan media adalah audiens atau publik yang merasakan manfaat dari informasi yang dibuat jurnalis. Karena itu, media tidak boleh lalai menjaga hubungan dengan pembacanya.

“Selama ini kita di media merasa tugas selesai ketika berita dipublikasikan. Saat tombol publish ditekan di CMS masing-masing, kita menganggap pekerjaan berakhir, itu keliru. Justru tugas media adalah menjaga percakapan yang terjadi setelah berita terbit,” ujarnya.

Ia lantas menyoroti banyak media yang mengklaim memiliki jutaan pembaca, namun tidak benar-benar mengenal siapa audiensnya.

“Coba cek media masing-masing. Ada yang mengklaim punya 200 ribu pembaca, ada yang mengaku 100 juta pembaca. Tapi apakah punya database nama dan alamat pembacanya? Tahu siapa orang-orang yang mengonsumsi informasi itu? Sebagian besar media tidak tahu. Yang diketahui hanya jumlah klik dan page view,” tuturnya.

Menurut Wahyu, kesalahan terbesar media saat ini adalah menyerahkan distribusi informasi sepenuhnya kepada platform digital seperti Facebook, Google, hingga X.

“Bagaimana wartawan ingin dipercaya publik kalau media dan wartawannya sendiri tidak kenal siapa publiknya,” lanjut Wahyu.

Ia menilai, kondisi tersebut masih bisa diperbaiki dengan mulai memprioritaskan kebutuhan pembaca dan membangun kembali hubungan langsung dengan audiens.

Lebih jauh, media dinilai tidak lagi bisa hanya mengandalkan traffic semata. Hal terpenting adalah kepercayaan publik atau trust. Sebab, media tanpa kepercayaan tidak lagi memiliki nilai.

Untuk membangun kepercayaan tersebut, media harus memiliki transparansi, akuntabilitas, serta identitas moral yang jelas. Media perlu menjelaskan bagaimana berita dibuat, siapa narasumbernya, hingga bagaimana proses peliputan dilakukan.

“Selain itu, ketika terjadi kesalahan, media juga diminta tidak diam-diam menghapus berita tanpa penjelasan. Koreksi dan permintaan maaf secara terbuka justru menjadi bagian penting dalam membangun kredibilitas,” tegas Wahyu.

Di tengah perkembangan teknologi AI, Wahyu menilai peran wartawan justru semakin penting. Verifikasi berbasis kerja manusia atau human-centered verification menjadi kunci agar publik dapat membedakan fakta dan manipulasi informasi.

“Ketika banyak orang khawatir wartawan akan tergantikan AI, saya justru tidak khawatir selama wartawan menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Karena human-centered verification itulah yang akan menjadi kunci bagi publik memilah informasi,” jelasnya.

Dalam menjalankan tugasnya, wartawan juga dituntut tetap memegang prinsip dasar jurnalistik saat turun ke lapangan. Cover both side, verifikasi, dan konfirmasi harus tetap dijalankan, terutama saat meliput isu kemanusiaan atau HAM.

“Hal tersebut menjadi pembeda utama antara laporan jurnalistik dengan laporan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Jika LSM bertugas menyuarakan kelompok terdampak tanpa kewajiban melihat sudut pandang lain, tapi wartawan memiliki tanggung jawab etik untuk menghadirkan berbagai perspektif dalam sebuah peristiwa,” tandasnya.

Foto?; Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMS) Wahyu Dhyatmika