Jurnalis Harus Independen dan Mengedepankan Fakta Saat Meliput Isu HAM

Kilometer Bandung Pengamat media dan jurnalis senior, Wenseslaus Manggut menyatakan, bahwa jurnalis harus tetap independen dan berorientasi pada fakta ketika meliput isu hak asasi manusia (HAM).

Dalam mencari berita, ia menyebut, tugas utama jurnalis bukan mencari pendapat, melainkan menemukan fakta yang dibutuhkan publik.

“Kalau kita cari pendapat, kita jadi aktivis atau ahli. Tetapi jurnalis datang untuk mencari fakta,” kata Wenseslaus
dalam kegiatan Kelas Jurnalis HAM, Media Pers Pilar Penting Pembangunan Peradaban HAM di Indonesia yang digelar di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Wenseslaus menjelaskan, isu HAM merupakan persoalan yang sangat tua dalam sejarah manusia, bahkan telah muncul sejak era sebelum masehi.

Salah satu tonggak awal HAM adalah Cyrus Cylinder yang menciptakan silinder tanah liat berisi dekrit pembebasan membebaskan budak dan jaminan kebebasan beragama yang dikenal juga sebagai piagam hak asasi manusia pertama
di dunia oleh para sejarawan.

Menurut Wenseslaus, pemahaman masyarakat Indonesia tentang HAM selama ini lebih banyak terfokus pada isu politik dan hak sipil akibat pengalaman masa Orde Baru. Padahal, hak ekonomi juga merupakan bagian penting dari HAM.

“Kalau hak politik negara dilarang terlalu jauh intervensi. Tetapi dalam hak ekonomi, negara justru diwajibkan hadir. Stunting, kelaparan, itu juga isu HAM,” ujarnya.

Wenseslaus yang kini menjabat Dewan Pembina Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) kembali menegaskan, posisi jurnalis dalam meliput isu HAM harus independen, bukan netral.

“Contoh sederhana, kalau satu orang bilang di luar hujan dan satu lagi bilang panas, orang netral hanya menulis dua-duanya. Tapi jurnalis independen akan keluar dan memeriksa sendiri keadaan sebenarnya,” ucap Wenseslaus.

Wenseslaus kembali mengingatkan pentingnya riset sebelum melakukan peliputan isu HAM. Jurnalis diminta memahami sejarah persoalan, peta konflik, aktor yang terlibat, hingga kondisi korban sebelum turun ke lapangan.

Dalam peliputan kasus HAM, terutama wawancara korban, pendekatan empati dan trauma-informed interviewing menjadi sangat penting.

“Jangan memaksa korban bicara. Ketika dia terlihat tidak sanggup melanjutkan cerita, berhenti dulu. Jadilah pendengar aktif,” lanjut Wenseslaus.

Ia juga mengingatkan agar jurnalis berhati-hati dalam membuka identitas korban maupun pelaku karena dapat berdampak pada keluarga dan lingkungan sosial mereka, terutama di era media sosial saat ini.

Ia menambahkan, tugas jurnalis bukan sekadar menyalin pernyataan narasumber, melainkan melihat, menggali, dan memverifikasi langsung fakta di lapangan.

“Jurnalis itu orang yang keluar melihat sendiri dengan mata kepala sendiri,” katanya.

Foto: Jurnalis senior Wenseslaus Manggut