Serukan Damai Natal di Pulau Jawa dan Papua, Ketua Umum PGLII Ajak Umat Rayakan Natal dengan Kederhanaan dan Kepedulian

Jakarta kilometer Berbicara perayaan Natal, Ketua Umum Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Pdt Dr Ronny Mandang menegaskan bahwa Natal tetap harus dirayakan bukan saja di Indonesia tetapi seluruh dunia. Namun di saat terjadi pandemi Covid-19 ini, Pdt. Ronny selaku ketum PGLII menghimbau agar gereja dan umat Kristiani dalam merayakan Natal dilaksanakan dengan penuh kesederhanaan.

Berkenaan dengan adanya bencana di beberapa tempat, Pdt Ronny melihat bahwa semua gereja sudah turun di lapangan seperti PGLII dengan semua anggota sudah dikerahkan ke seluruh wilayah misalnya beberapa banjir di Pulau Jawa, di Lumajang gunung meletus.

Memang dalam memberikan bantuan tak perlu membawa bendera kita, tetapi jemaat diharapkan membuka semua harta benda kita seperti orang majus yang mempersembahkan emas perak kemenyan dan mur.

Tetapi bagi jemaat dengan membuka dana untuk dikumpulkan jangan seratus persen untuk gereja tetapi disisihkan untuk saudara-saudara kita yang ada ditenda-tenda seperti di Siberut, Lumajang dan sebagainya dan beberapa wilayah Indonesia yang lain.

“Seperti khotbah saya saat Natal di DPR /MPR, kita perlu mengingat saudara-saudara kita di Papua. Karena damai di pulau Jawa juga menjadi damai di Papua, sehingga harapannya umat Kristiani di sana agar merayakan Natal dengan penuh kedamaian dan kasih”, himbaunya.

Tak dipungkiri selama ini sebelum pandemi dalam merayakan Natal cenderung merayakan dengan besar padahal sesungguhnya bukan seperti itu. Kelahiran Yesus yang dibaringkan di palungan dan dibungkus kain lampin, di mana kain lampin itu sama dengan kain bodong yang biasa dipakai untuk membungkus hewan atau menyeka tubuh hewan. Misalnya pada waktu Yusuf dan Maria datang dari Betlehem dari Nasareth menempuh perjalanan 160 KM menggunakan keledai, nah saat perjalanan memakai keledai itu kain lampin berfungsi untuk mengelap keledai tersebut.

Selanjutnya Ronny menjelaskan bahwa inti dari Natal disamping Yesus sebagai juru selamat dan Tuhan dalam Kristus tetapi Natal hadir dalam kesederhanaan. Palungan itu sendiri terbuat dari batu yang berlubang tempat makan dan minum hewan yang tidak pernah dipergunakan untuk bayi yang baru lahir tetapi disitu di palungan ada ketidaklayakan.

Tetapi bagi Yesus yang adalah raja Imanuel harus merima Yesus dengan apa adanya oleh Maria dan Yusuf. Tidak pernah menuntut tempat yang ekslusif artinya Natal ini ada pandemi atau tidak memang Natal harus dibawa dengan penuh kesederhanaan. Artinya harus dibedakan Natal dengan kebudayaan atau Natal versi alkitab.

Maksud Natal kebudayaan misalnya Natal dengan sinterklas, kado dan nyanyian-nyanyian yang serba gemerlap dan merdu sekalipun itu tidak salah tetapi dikaitkan dengan Yesus yang lahir di Palungan dan ditaruh ditempat yang tidak layak. Karena tak ada satupun ibu yang menempatkan bayinya di tempat hewan. Tetapi ini inti Natal adalah kesederhanaan, kebersahajaan harus kita tunjukan bukan pesta pora. Kalaupun ada dana lebih akan lebih baik diberikan kepada kawan-kawan di mana-mana ada didaerah yang sedang mengalami musibah dan bencana.

Tanpa harus memandang siapapun mereka, seperti orang majus yang mendatangi bayi Yesus dengan menempuh perjalanan 200. 000 KM dari timur itu ada daya juang, tetapi aplikasinya hari ini tidak pernah berNatalan dengan berjalan ribuan kilo, hanya cukup naik mobil sebentar saja sudah nyampai. Makanya yang tidak boleh hilang adalah spirit daya juang nya.

Dengan cara memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. “Kami di PGLLI mendorong perayaan Natal dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi makna Natal itu sesuai dengan firman Tuhan yang ada di Alkitab”, terang Pdt yang menggembalakann GKRI Karmel, Jakarta Selatan ini.

Selanjutnya patut bersyukur pemerintah tidak memberlakukan PPKM level 3, pun demikian diberlakukan protokol kesehatan yang dikeluarkan menteri dalam negeri dan menteri agama yang paling baru, disitu tidak ada pembatasan dalam pengertian umat mau beribadah tidak dilarang tetapi barang tentu ada batasan-batasan pengunjung, mengikuti aturan peduli lindungi, dan tetap mengedepankan prokes.

Tujuan nya agar pelaksanaan Natal yang penuh hikmat ini dengan sahdu tidak kekurangan hikmat di mana orang tua dan anak-anak yang mau beribadah dianjurkan mengikuti secara daring, kemudian gereja agar menerapkan peduli lindungi agar gereja tidak menjadi cluster baru dengan varian covid yang baru, diharapkan gereja tidak menjadi sumber meledaknya pandemi dengan berbagai varian yang akan ada.

“Intinya tetap mejaga diri mengikuti protokol kesehatan kepada siapapun baik pendeta, majelis dan orang-orang yang dianggap penting dari anggota jemaat tanpa pengecualian”, tandas pendeta yang dekat dengan wartawan ini.

Pdt Ronny jelas dengan apa yang dilakukan oleh gereja dengan tetap menjaga prokes ini akan menjadi kesaksiaan bahwa gereja mendukung pemerintah dalam melawan penyebaran corona dengan varian baru umicron.

Pdt Ronny mengajak, Natal kali ini yang menjadi pokok doa damai di bumi bagi seluruh umat manusia yang berkenan kepada Allah itu juga merata di negeri kita dari Papua sampai di Aceh dari Miangas ke Pulau Rote, artinya tidak ada diskriminasi tidak ada kesenjangan sekalipun itu tidak diciptakan tetapI peran dari gereja, peran umat Kristen dan peran umat beragama momentum seperti hari raya Natal.

Di mana Natal itu adalah hari besar dan di hari yang dibesarkan itu tentu bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain yang mungkin hari ini berteriak dan menangis tetapi tidak terucapkan. Kita harus menangkap bahasa bathin kepada seluruh umat dan bangsa Indonesia yang menderita dan dengan Natal ini damai itu nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *