Kilometer Jakarta , – Perayaan Paskah yang digelar Persaudaraan Warga Gereja Sumatera Utara (PWGSU), dan seminar yang digelar, tersimpan pesan yang lebih luas: kegelisahan atas perubahan sosial, krisis nilai generasi muda, dan tantangan moral di era digital di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Sabtu (18/4),
Dengan tema “Dalam Kebangkitan Kristus: Hidup Baru, Era Baru & Daya Juang Baru”, PWGSU mencoba menempatkan Paskah sebagai momentum refleksi sekaligus respons terhadap perubahan zaman yang bergerak cepat.
Acara dipandu oleh MC Tabitha Napitupulu, yang membuka rangkaian kegiatan dengan suasana formal dan tertib, sebelum dilanjutkan dengan Ibadah Raya Paskah pukul 10.00 WIB.
Kebangkitan Kristus dan Narasi Transformasi Sosial
Dalam khotbahnya, Pdt. Krismas Imanta Barus, M.Th., Ketua Moderamen GBKP, menegaskan bahwa kebangkitan Kristus tidak boleh berhenti sebagai perayaan simbolik. Ia harus dimaknai sebagai panggilan untuk transformasi hidup yang nyata.
Ia menekankan pentingnya perubahan karakter, integritas, dan keberanian meninggalkan pola hidup lama yang tidak sesuai dengan nilai iman.
“Melalui kebangkitan Kristus, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup baru—berani meninggalkan dosa, membangun integritas, serta menjadi terang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pesan ini menjadi landasan moral dari seluruh rangkaian kegiatan PWGSU, yang kemudian diperluas ke ranah sosial dan kebangsaan melalui deklarasi dan seminar.
Deklarasi PWGSU: Moralitas Publik di Tengah Disrupsi Digital
Dalam Prosesi Deklarasi PWGSU, organisasi ini menyampaikan tiga komitmen utama: penolakan terhadap narkoba, judi online, dan pinjaman ilegal; penguatan peran generasi muda melalui pendidikan dan profesionalitas; serta komitmen sebagai mitra strategis dalam transformasi nasional.
Deklarasi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran gereja terhadap dampak disrupsi digital, terutama meningkatnya akses generasi muda terhadap praktik ekonomi ilegal dan perilaku adiktif berbasis teknologi.
Namun, seperti banyak deklarasi moral lainnya, tantangan terbesar bukan terletak pada pernyataan, melainkan pada implementasi di tingkat komunitas.
Seminar Pemuda: AI, Ekonomi Global, dan Krisis Ketahanan Generasi
Sesi Seminar Pemuda-Pemudi Sumatera Utara menjadi bagian paling substantif dari rangkaian acara. Seminar ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional lintas bidang.
Di bidang ekonomi dan politik, hadir Hashim Djojohadikusumo, yang membahas AI peluang ekonomi di tengah krisis lingkungan global.
Dari bidang hukum dan tata negara, Prof. Yasonna H. Laoly mengulas isu hukum, kebebasan, serta tantangan regulasi di era digital yang semakin kompleks.
Sementara itu, Dr. Edimon Ginting dari Asian Development Bank (ADB) menyoroti dampak dinamika global terhadap ekonomi nasional, termasuk tekanan geopolitik dan ketidakpastian pasar internasional.
Dari sisi teologis, Pdt. Prof. Binsar J. Pakpahan memberikan refleksi mendalam mengenai iman Kristen di era kecerdasan buatan (AI). Ia menyoroti tantangan serius berupa melemahnya kemampuan berpikir kritis di kalangan generasi muda akibat ketergantungan pada teknologi digital.
Menurutnya, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti proses intelektual manusia. Ia juga menyinggung fenomena generasi instan yang cenderung menghindari proses panjang dan mudah meninggalkan tanggung jawab ketika menghadapi tekanan.
Sementara itu, ekonom Raden Pardede menyoroti isu ketahanan pangan dan energi sebagai tantangan strategis bangsa yang tidak dapat dipisahkan dari stabilitas sosial dan ekonomi jangka panjang.
Generasi Muda di Persimpangan: Antara Peluang dan Kerentanan
Rangkaian diskusi tersebut memperlihatkan satu kesimpulan implisit: generasi muda Indonesia berada di persimpangan besar. Di satu sisi, mereka hidup dalam era dengan akses informasi, teknologi, dan peluang global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan baru berupa distraksi digital, budaya instan, dan ketidakpastian arah hidup.
Dalam konteks ini, PWGSU mencoba menempatkan gereja bukan hanya sebagai institusi spiritual, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, etika, dan kesadaran kritis generasi muda.
Dari Wacana ke Implementasi: Tantangan Nyata Gereja
Meski pesan yang disampaikan dalam Paskah 2026 ini kuat secara naratif, pertanyaan yang lebih mendasar tetap mengemuka: sejauh mana seluruh gagasan ini dapat diterjemahkan menjadi perubahan nyata di luar ruang seminar?
Sejarah menunjukkan bahwa banyak deklarasi moral berhenti pada level wacana. Tantangan sesungguhnya terletak pada keberlanjutan gerakan bagaimana nilai iman, etika, dan kesadaran sosial benar-benar hidup dalam keputusan sehari-hari umat.
Penutup: Iman di Tengah Era Disrupsi
PWGSU Paskah 2026 memperlihatkan pergeseran penting dalam cara institusi keagamaan membaca zaman. Paskah tidak lagi hanya dimaknai sebagai perayaan spiritual, tetapi juga sebagai ruang refleksi atas krisis sosial, etika digital, dan masa depan generasi muda.
Di tengah arus kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan budaya instan, pertanyaan utama tetap sama: apakah nilai-nilai iman mampu menjadi fondasi etika publik yang kokoh, atau justru tersisih oleh kecepatan zaman?
Jawaban atas pertanyaan itu, sebagaimana tersirat dalam seluruh rangkaian acara, tidak hanya bergantung pada institusi, tetapi pada pilihan setiap individu dalam menjalani hidupnya.
Di era ketika teknologi, khususnya kecerdasan buatan, mengubah cara manusia berpikir dan bertindak, tantangan terbesar bukan hanya pada kemampuan beradaptasi, tetapi pada keteguhan menjaga nilai, integritas, dan daya pikir kritis.
Melalui rangkaian ibadah, deklarasi, dan seminar, PWGSU mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral dan spiritual generasi mudanya.
Karena itu, pesan yang paling mendasar dari seluruh kegiatan ini sederhana namun mendalam: hidup baru harus diwujudkan dalam keputusan nyata, dalam cara berpikir, dan dalam keberanian untuk tetap benar di tengah dunia yang terus berubah.