MNC PURBA DARI NUSANTARA

Oleh : Yudhie Haryono

Kilometer.co.id Jakarta Kehidupan pulau Run berjalan sangat pelan, sejalan dengan harum buah pala yang tak lagi tercium oleh bangsa asing bahkan bangsanya sendiri. Pulau Run dan buah Pala adalah kisah purba pembentuk Indonesia.

Kita tahu, buah Pala merupakan jenis rempah yang memiliki khasiat untuk pengobatan. Pohon pala tumbuh tinggi menjulang dihiasi bunga yang mekar menyerupai lonceng, dengan buah yang bergelantung bulat dengan daging yang tebal. Tetapi, pala diciptakan untuk kemewahan yang tidak meyakinkan karena kering dan keriput (h. 24).

Harum buah pala di Kepulauan Banda, Maluku, memikat bangsa asing untuk berdagang dan meraup untung di pasar dunia pada abad ke-17. Buah pala pada zaman itu digunakan sebagai bumbu sekaligus pengawet makanan. Tentu saja, harganya lebih mahal dari emas saat itu. Disebut juga emas rempah.

Saat itu, Portugis menjadi negara pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Kepulauan Banda. Namun, mereka tidak bertahan lama dan memutuskan untuk kembali setelah mendapat serangan dari penduduk setempat.

Ya. Penduduk juga tahu khasiat dan harga buah Pala. Maka merekapun melawan siapa saja yang akan menjarahnya.

Dalam sejarah yang bergelombang, awal abad ke-17 M, panen rempah-rempah mengubah pulau Run menjadi pulau yang paling berharga dari kepulauan rempah-rempah lainnya di Nusantara.

Peristiwa ini mendorong perebutan sengit dan berdarah-darah antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sekelompok tentara Inggris yang dipimpin oleh kapten pemberani, Nathaniel Courthope.

Apa hasil pertarungan tersebut? Hasilnya adalah satu penawaran paling spektakuler dalam sejarah: Inggris menyerahkan pulau Run ke Belanda, dan sebagai imbalannya Inggris diberi sebuah pulau lain, yakni Manhattan.

Giles Milton menulis dengan deskripsi yang brilian. Bukunya mirip novel hidup. Jika kita membacanya, seolah hidup di masa itu. Buku ini diketik untuk mengisahkan petualangan brilian, perang dan kebiadaban, navigasi yang belum terpetakan, dan sebuah eksploitasi dunia baru yang menggiurkan mulut dan perut kaum penjajah yang rakus dan mampus.

Buku pulau Run menjadi cerita menakjubkan ihwal magnet rempah-rempah Nusantara dalam sejarah kekuasaan kolonial. Sejarah kelam yang kita tak belajar dari kejahiliyahannya.

Ingat. Kecerdasan seseorang (pemimpin) bisa diukur dari perlawanannya. Bisa dilihat dari revolusinya. Bisa dirasakan dari menyempalnya. Sedang kebodohan seseorang (pemimpin) bisa diukur dari perngemisannya. Bisa dilihat dari perngutangannya. Bisa dirasakan dari keluguannya.

Dua hal yang kontras. Oposisi biner. Sebab, kecerdasan merupakan inti dasar perlawanan dan revolusi. Tak ada perlawanan dan revolusi tanpa kecerdasan. Begitupula sebaliknya.

Dus, hidup cerdas berarti manifestasi semangat perlawanan; hakekat hidupnya melawan. Melawan penjajahan; kebodohan dan kemiskinan.

Sebab kita tidak bodoh tapi dibodohkan. Kita tidak miskin tapi dimiskinkan. Hidup cerdas berarti merealisasikan keyakinan ideologis. Hakekat hidup adalah berkeyakinan secara ideologis; denganya akan mampu menatap dan meraih masa depan. Menghancurkan penjajahan.

Hidup cerdas berarti mematrialisasi cita-cinta dan cara mencapai cita-cinta: merdeka, mandiri, modern dan martabatif. Cerdas memintal sejarah masa lalu, merevolusikan masa kini, menjeniuskan masa depan.

Jika suatu bangsa-negara belum mencapai merdeka, mandiri, modern dan martabatif maka pemimpinnya belum melawan; presidennya belum cerdas. Artinya, presiden dan pemimpinnya bodoh. Presiden yang kerjanya ngemis dan utang (ke mana-mana). Inilah peradaban mutakhir kalian.

Judul Buku: Pulau Run.
Penulis: Giles Milton.
Penerjemah: Ida Rosdalina.
Editor: Nunung.
Penerbit: Alvabet.
Cetakan: Juli 2015.
Ukuran: 13 cm x 20 cm.
Tebal: 512 halaman.
ISBN: 978-602-9193-73-2.

(*)

Penulis adalah Rektor Universitas Nusantara