Prof. Marthen Napang Sejarah Selalu Bicara Tiga Dimensi Dalam Bedah Buku Indonesia Tak Pernah Dijajah

Kilometer.co.id, Jakarta Bedah buku Indonesia tak pernah dijajah dipandu Dr. Rudy Gunawan dari Universitas HAMKA yang menghadirkan tiga professor antaranya Prof Dr Taufik Abdullah, Prof.Makarim Wibisono dan Prof Marthen Napang. Prof Makarim duta besar PBB ini melihat bahwa menulis akurat bagaimana Belanda bangsa yang sebenarnya. Sangat memeras dan tidak beradab. Misalnya ketika VOC datang berdagang lada rupanya mereka juga memperjualbelikan penduduk sebagai budak.

“Saya pernah ke Captown, di sana ada pasar Budak dan  ada nama-nama orang Indonesia yang diperjualbelikan di sana,” jelasnya. Di dalam buku ini bangsa Belanda kejam. Di saat Banda mempertahankan pasar mereka, Gubernur Jan Peter Coen justru melakukan genocid agar pasar bisa dikuasai. Termasuk dengan orang-orang China di Batavia ketika sukses berdagang mengancam orang Belanda. Mereka  kemudian dikumpulkan di  Jakarta Utara dan  dibrondong dan ribuan meninggal.

Jika ditanya Indonesia dijajah sejak kapan? Pertama dijajajah saat Jayakarta dikuasai dan diganti jadi Batavia.  Kemudian Banda Maluku juga dikuasia. “Gambaran bahwa Indonesia dijajah 350 tahun itu merugikan kebangsaan saya. Misalnya Tapanuli, 1900 masih merdeka, juga Aceh dan Bali.

Ini bisa dijadikan amunisi kita dan  menjawab bangsa lain.  Buku ini menjelaskan secara jelas  proses perwalian kekuasan dari Belanda ke Indonesia, tidak seperti  proses penyerahan daerah jajahan Inggris kepada India atau Malaysia.

“Saya kira buku ini sangat berharga bagi calon diplomat Indonesia.  Disini ada mengenai diplomasi. Saya usulkan ini bisa bacaan wajib di sekolah diplomat. Saya pengagum Buku ini dan penulisnya ya Pak Batara,” tutur Prof Makarim Wibisono. Kalau disini dijelaskan bahwa negara dan bangsa Indonesia berdiri 17 Agustus, maka ini temuan akademis yang sangat berharga untuk diplomasi kita ke depan.

Tampil sebagai pembahas ketiga, uraian Prof Dr Marthen Napang juga tak kalah menarik.  Ia mengawali paparannya bahwa pertemuan ini sangat monumental pertemuan. Kehadiran Buku ini merupakan litratur utama dalam memperkaya dan  meluruskan fakta sejarah masa lalu.

“Saya kira sejarah ini bicara tiga dimensi yaitu masa lalu, masa kini dan  bagaimanan membaca masa depan. Keberadan Belanda di Nusantara lewat   VOC motivasinya masuk ke Indonesia adalah  motivasi dagang. Demikian juga Spanyol dan Portugis,” tanggapnya.

VOC hadir dalam rangka mencari komuditas bumi yang melimpah ruah  hasil bumi,  yang sangat diperlukan di Eropa. Mula-mula berlaku praktek monopoli.  Lama kelamaan untuk mempertahankan monopoli maka diturunkan tentara Belanda.

Lebih jauh,  Guru Besar UNHAS ini pada masa Jepang dengan  Perang Asia Timur Raya, mereka  keberadaan  Belanda tidak boleh ada di Asia Timur Raya. Jepang masuk ke Indonesia bukan untuk menjajah, tetapi mengusur Belanda.

“Suasana PD I dan PD II memang ada doktrin Presiden Wilson dari AS yang menyatakan;  The Right Determinatioan atau  hak menentukan nasib sendiri. Ini keluar karena  ada kecenderungan pemenang Perang  untuk membagi-bagi  wilayah yang dikuasainya. Maka Wilson menetapkan hak untuk menentukan sendiri,” urainya.

Saat di Liga Bangsa-Bangsa (LBB) usulan ini kurang  disambut. Namun ketika Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) usulan Presiden Wilson  ini masuk dalam konstitusi pendirian PBB. Hak menentukan nasib sendiri, hak membentuk pemerintahan sendiri dan kemudian hak  menentukan bergabung satu negara atau memisahkan diri sendiri. Maka sesungguhnya tidak ada penjajahan yang ada masa itu pendudukan.

Dengan demikian kemerdekaan Indonesia berdasarkan prinsip pendudukan bukan dari penjajahan, tapi pendudukan pemenang perang. Tidak semua negara lahir dari penjajahan. Karena itu harus dibedakan penjajahan dan pendudukan.

“Ciri utama penjajahan, terdapat penguasan efektif atas wilayah dan penduduk. Kedua, tidak ada  perlawanan fisik dri penduduk yang dijajah. Sedangkan pendudukan ciri utama dalaj  terdapat penguasaan bagian tertentu dari   wilayah dan penduduk. Kedua ada perlawanan-perlawanan penduduk. Perlawanan  seperti itu menjadi tidak ada penguasaan  efektif,” beber professor yang lagi ikut seleksi KPK ini.

Maka dari itu, kata mantan ketua PIKI mengatakan bahwa perlawanan-perlawanan ke pasukan Belanda membuktikan tidak ada penguasan efektif semua wilayah  dan  penduduk Indonesia. Dengan demikian tidak ada penjajahan Belanda di dalam nusantara ini. Sebab tidak ada penguasaan efektif,” tutur Advokat senior ini.

Setelah Indonesia merdeka baru ada Agresi Militer Belanda. Seperti dijelaskan di atas tradisi pemenang perang kecendetungan membagi wilayah yang didudukinya kemudian melahirkan perlawanan  10 Nopember di Surabaya,  Penembakan massal di Rawagede dan kasus Westerling. Dalam kondisi Indonesia mengalami Agresi Militier Belanda,  ada yang mengatakan bahwa itu sama dengan  kejahatan perang.

“Saya kira kita bisa memberi apresiasi  lebih kepada pahlawan  yang menjadikan Indonesia tidak pernah dijajah seperti Dipanegoro, Sisingamangaraja, Iman Bonjol dan lainnya. Menurut hemat saya para pahlawan  yang melawan bangsa asing melalui pendudukan  harus lebih dihormati daripada pahlawan kemerdekaan,” tegasnya.

Sejarawan senior yang juga budayawan mengungkapkan bahwa buku ini enak dibaca tidak saja kalangan sejarawan tapi semua pihak. Buku ini memmang menunjukkan bahwa penulis juga sejarawan.

“Ketika membaca buku  ini pertama saya langsung teringat dengan buku Tan Malaka berjudul Naar de Republiek Indonesia (Negara Republik Indonesia) tahun 1945. Kedua, juga teringat buku terbitan tahun 1923 Indische Vereneging (Hindia Putera) diterbitkan di negara Belanda. Ini menjelaskan Indonesia dalam masyarakat dunia,” tutur mantan Ketua LIPI ini.

Taufik Abdullah mengakui bahwa suasana buku-buku di atas masuk dalam  suasana Buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah. Fakta-fakta diceritakan berbeda. “Ya masuk akal juga Indonesia tidak pernah dijajah. Karena Perhimpuanan Indoneaia didirikan di Belanda 1926, ketua pertama Dr Sukiman,” tukasnya.

Menurutnya sejarah ditulis bukan sekedar menulis cerita masa lalu, tapi penting lagi untuk menyatakan sesuatu siapa kita?  “Sejak awal saya bertanya mengapa ada buku: Indonesia Tidak Pernah dijajah. Setelah baca jadi mengetahui bahwa yang Indonesia tidak pernah dijajah tetapi yang terjajah itu Hindia Belanda,” urainya.

Waktu Bung Hatta diadili di Belanda tahun 1926, lebih dulu dari Bung Karno, pidatonya  berjudul:  Indonesia  Merdeka. Kemudian Bung Karno membuat pidato: Indonesia Menggugat. Seperti ada korelasi pidato kedua proklamator itu.  Jadi memang kita perlu  bagaimana mendapatkan sejarah Indonesia centries. Dulu  sejarawan hebat  seperti Mr Muhammad Yamin.

“Guru saya Pak Sartono (Prof Dr Sartono Kartodirjo)  belajar Sosiologi. Disertasi pertama ditulisnya  tentnag Sejarah Pedesaan di Jawa. Dulu saya kurang tertarik karena bicara sejarah selalu jawa, akhirnya saya menekuni sejarah Eropa. Namun setelah ke luar negeri baru kemudian tertarik belajar mendalami sejarah Indonesia dan menulis sejarah Aceh. Kemudian belajar sejarah Minang, kemudian Sejarah Minangkabau. Pergolakan di Sumbar antara kaum muda dan kaum tua. Sistem Pergerakan Nasional  selalu bicara Jawa, saya agak marah akan hal itu sebab  ternyata banyak tokoh-tokoh dari Sumbar seperti Hatta, Yamin, Tan Malaka, Syahrir dan tokoh lainnya,” bebernya.

Memang buku ini bertolak dengan dialog Indonesia dengan Belanda. Betul-betul dialog, konsep bangsa jelas bangsa Indonesia, bukan etnik dan antropoligis.  “Saya anjurkan sekali untuk dibawa pelajaran di sekolah-sekolah,” ajaknya. Kata Indonesia ideologias tidak  dijajah tetapi secara geografi memang dijajah. Kalau konsep geografi dijadikan ya memang beda.

Hadir dalam bedah buku yang diselenggarakan di gedung K1 Nusantara kawasan Senayan Jakarta, mendapat respon yang positif dari peserta yang hadir. Seperti salah satu guru dari SMA 6 Jakarta Selatan, yang bersaksi bahwa buku ini sangat bagus. Sebagai guru sejarah selama ini kalau mengajar murid-muridnya selalu mengantuk. Namun berkat buku terbitan Batara Hutagalung bahwa Indonesia tidak pernah dijajah membuat siswa semangat.

Untuk itu ibu guru ini meminta agar buku ini dimasukan dalam rancangan kurikulum, sehingga ada materi pegajaran bagi siswa-siswa. Seementara salah satu mahasiswa juga sangat tertarik dengan buku ini, dan berharap Pak Batara bersedia hadir untuk bedah buku di kampusnya. Agar materi buku ini bisa diteliti dan sebagai bahan kajian. Tak ketinggalan Pak Caniago yang mengaku teman Batara sewaktu di Perancir berharap ada rekomendasi kepada Presiden ataupun DPR RI, sehingga buku ini bisa dipakai bahan untuk meluruskan sejarah.

Indonesia Tidak Pernah Dijajah” karya Batara Hutagalung. Acara diawali dengan sambutan dan tanggapan Dr. Fadli Zon yang memfasilitasi bedah buku tersebut. Wakil ketua DPR RI mengungkapkan bahwa buku Batara Hutagalung  ini sangat provakatif dan sangat menarik dikaji.  “Saya kira buku ini sangat menarik dan memang provakatif dengan judul Indonesia Tidak Pernah Dijajah. Benarkah Indonesia 350 tahun di jajah?  Mungkin Aceh hanya 40 tahun dan Jawa baru 1883 dan juga daerah  lainnya tentu berbeda.  Saya sudah lama diskusi dengan Pak Batara dan dia sangat konsern dengan sejarah Indonesia,” ujar Doktor Sejarah dari Universitas Indonesia ini.

Menurutnya, memang Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus sifatnya defacto. Baru  27 Des 1949  ada pengakuan secara dejure. “Saya kira seorang sejarawan sejati tidak hanya membaca buku-buku meanstream tapi dia harus punya alat pisau untuk membedah dan menganalisa setiap peristiwa sejarah yang terjadi. Pak Batara  selain menggeluti sejarah sangat aktif dalam pergerakan,” tutur Fadli Zohn.

Dia juga mengajak semua pihak agar melihat bahwa peradaban Indonesia adalah salah satu peradaban tua. Ditandai dengan peninggalan artefak arkeolog Gua liang-liang di Sulawasi Selatan,  yang memungkinkan peradapan sudah 40.000 tahun.  “Mungkin kita  perlu membuat rewriting history Indonesia, karena selama ini penulisan sudut pandang penjajah. Mungkin dulu kerajaan dan kesultanan dijajah tetapi tidak semua wilayah,” jelasnya  sembari mengapresiasi atas terbit buku Batara Hutagalung ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *