Membangkitkan Kembali Gagasan Ekonomi Pancasila

Oleh : Agus Rizal (Penulis Buku Soemitro Anti Penjajahan)

Kilometer Jakarta Anang Fahmi, dosen UIN Purwokerto menulis artikel sangat provokatif di media berjudul, “Kok Prabowonomics Melawan Soemitronomics?” Ini kritik tajam atas buku yang kami tulis dan artikel ini adalah “tanggapan sederhananya.” Tentu dengan harap cemas terjadinya ruang saling belajar dan berdialog, bukan saling merasa benar dan paling pintar.

Yes. Mewujudkan negara pancasila yang berekonomi berkeadilan adalah perjuangan gagasan yang membuat perih. Keperihan itu nyata, bukan sekadar metafora. Ia hadir dalam setiap diskursus yang gagal, dalam setiap kebijakan yang melenceng, dan dalam setiap diamnya para pemikir yang seharusnya berdiri di garis depan.

Keperihan tersebut semakin dalam ketika para ekonom di negeri ini lebih memilih menjadikan ekonomi sebagai wilayah matematik dan statistik, bukan sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan sosial. Angka-angka dipuja, model-model disempurnakan, tetapi realitas ketimpangan tetap dibiarkan. Ekonomi kehilangan jiwa, dan negara kehilangan arah.

Di tengah situasi itu, ekonom pancasilais justru terdiam. Mereka membisu di ruang publik, tidak terdengar dalam arus utama kebijakan, dan hanya tampak gagah dalam forum-forum diskusi kecil yang tidak memiliki daya ubah. Keheningan ini bukan netral, tetapi bentuk kekalahan dalam pertarungan gagasan.

Kondisi inilah yang menggelitik penulis untuk melakukan pembalikan arah. Bukan sekadar kritik, tetapi upaya sistematis untuk menggeser dominasi pemikiran ekonomi neoliberal menuju ekonomi Pancasila. Sebuah langkah yang tidak populer, tetapi mendesak, karena arah ekonomi tidak bisa terus dibiarkan tanpa fondasi ideologis.

Upaya ini sekaligus menjadi panggilan agar para ekonom pancasilais kembali hadir di ruang publik. Bukan sekadar hadir, tetapi berani menarasikan kebenaran tentang apa itu ekonomi berkeadilan, dan siapa yang selama ini mendominasi narasi ekonomi neoliberal. Pertarungan ini adalah pertarungan wacana, sekaligus pertarungan masa depan.

Dalam konteks itulah buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan hadir. Buku ini bukan sekadar karya akademik, tetapi juga satire yang tajam terhadap arah ekonomi nasional. Ia mencoba mengguncang kesadaran, bukan menenangkan kenyamanan intelektual.

Buku ini secara tegas menempatkan Soemitro Djojohadikusumo sebagai ekonom Pancasila. Namun penempatan ini tidak diambil dari keseluruhan pemikirannya, melainkan dari sisi yang selama ini justru minoritas. Di situlah letak keberaniannya: menggali yang tersembunyi untuk menjawab krisis yang nyata.

Sebagian ekonom menyebut buku ini sebagai retorika. Penilaian itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak utuh. Dalam konteks negara yang bahkan belum berhasil mewujudkan dirinya sebagai negara Pancasila, retorika justru menjadi bagian dari perjuangan. Ia adalah bahasa awal dari perubahan yang belum terwujud.

Penulis bahkan secara sadar menyematkan Soemitro Djojohadikusumo sebagai Sang Begawan Ekonomi Pancasila. Ini bukan glorifikasi tanpa makna, melainkan upaya menghadirkan figur yang dapat menjadi aktor penggerak gagasan. Sebuah simbol yang dibutuhkan agar ekonomi Pancasila tidak lagi menjadi wacana pinggiran dan historis.

Secara struktur, buku ini bukan karya biasa. Ia adalah plot twist intelektual. Di satu sisi, ia tetap ilmiah, membahas kebijakan konkret seperti Program Benteng yang jarang disentuh secara mendalam oleh penulis lain. Di sisi lain, ia menyimpan kejutan dalam epilog yang membalik cara pandang pembaca. Inilah yang membuatnya layak disebut sebagai naskah satire ilmiah.

Keberanian buku ini terletak pada kesediaannya untuk dikritik. Penulis tidak mencari kenyamanan, tetapi justru membuka ruang perdebatan. Ini penting, karena tanpa konflik gagasan, tidak akan ada pergeseran paradigma dalam ekonomi nasional.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar ulasan buku, tetapi seruan terbuka. Seruan agar ekonomi Indonesia kembali pada akarnya, pada Pancasila sebagai dasar, bukan sekadar simbol atau sematan. Seruan agar para ekonom berhenti bersembunyi di balik angka, dan mulai berbicara tentang keadilan. Dan seruan agar negara ini berani menjadi kaya, maju, dan bermartabat dengan logika sendiri, bukan dengan bayangan negara lain.

Perjuangan itu memang perih namun dibalik keperihan itu terdapat dopamin gagasan yang mewujudkan mimpi negara pancasila menjadi nyata.(*)