Kilometer Jakarta Di kalangan keluarga Jawa ada cara ketika orang tua khususnya bapak dalam memberikan petuah atau didikan kepada anak-anaknya dengan kata-kata sanepan atau perumpaan yang tentu perlu dicerna untuk mendapatkan arti sesungguhnya. Memang kala kecil tentu apa yang disampaikan orang tua itu terkadang kita telan mentah apa yang di katakan itulah yang diterima begitu saja.
Ajaran sanepan orang tua adalah petuah atau nasihat yang disampaikan secara kiasan atau metafora oleh orang tua kepada anak-anaknya. Biasanya, ajaran ini mengandung nilai-nilai kehidupan, kebijaksanaan, dan prinsip-prinsip moral yang penting untuk diikuti.
Semisal, ada sebuah petuah kalau makan jangan di depan pintu nanti akan di tabrak sapi atau kuda. Kala masih kanak-kanak itu kita terima begitu saja, sehingga ketika makan tidak berani di pintu. Padahal tak punya sapi atau kuda di dalam keluarga
Setelah beranjak dewasa ternyata apa yang disampaikan bapak atau orang tua tersebut bermakna dua sekaligus, bisa arti sesungguhnya pintu karena tempat lalu lalangnya penghuni rumah sehingga bisa jadi kalau ada sapi yang terlepas masuk pintu dan bisa mencelakai kita.
Selain itu apa pesan dari orang tua kita juga bermakna bahwa makan di pintu itu bisa menganggu orang yang lewat sehingga sangat mungkin karena kita masih kecil piring untuk tempat makan tersenggol bisa terjatuh dan makanan berantakan. Artinya makanlah di tempat yang disediakan dan aman.
Masih banyak lagi ajaran atau petuah orang-orang tua dan para bijak pandai yang mengandung makna bukan saja apa yang terucap tetapi makna yang di dalam. Makanya di Tanah Jawa khususnya dan orang timur lahirnya para pujangga seperti Raja Jayabaya. Ki Ngabie Ronggo Warsita, KGPAA Mangkunegaran Ke-IV dan masih sederet pujangga yang memberikan ajaran yang penuh makna.
Dari sekian ajaran atau petuah yang saya dengan dari bapak, mengatakan nanti akan ada akan menangi jaman plastik (kita akan mengalami jaman plasti). Tentu saat itu dalam benak kita mencari makna apa yang di maksud jaman plastik itu. Apa semua barang itu akan memakai plastik yang kala kecil tahun 70-an sampai 80an pertengahan, masih menggunakan bahan itu dari kayu, bambu atau jika berjualan bungkusnya daun.
Namun, beberapa tahun apa kata bapak akan menangi jaman plastik itu tetap tersimpan rapat dengan masih ada sejuta tanya apa yang dimaksud jaman plastik. Waktupun berlalu dan perubahan demi perubahan tehnologi terus berkembang pesat. Termasuk adanya industri plastik yang begitu masiv terutama datang dari negeri Bambu (Cina).
Maraknya penggunaan plastik sebagai perabot rumah tangga, mainan anak-anak dan juga alat-alat tertentu, mengakibatkan pencemaran lingkungan akibat limbah yang ditimbulkan sehingga para pecinta lingkungan hidup berupaya mengurangi penggunaan berbahan plastic, termasuk kebijakan Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI) sewaktu kepemimpinan Pdt. Gomar Gultom melarang penggunaan plastik di lingkup kantor PGI dan acara-acara PGI.
Seketika teringat apa yang dikatakan bapak saya tentang jaman plastik, apakah ini waktunya. kenyataannya memang sudah serba plastik sehingga apa yang menjadi petuah atau pesan dari orang-orang, para pujangga dan cerdik pandai benar terbukti. Lantas bahwa arti pesan atau petuah selalu ada dua makna baik arti sesungguhnya maupun makna tersurat
Transparan
Plastik sifatnya transparan terutama yang berwarna bening, ketika plastik dipakai membungkus benda yang dibungkuspun terlihat jelas dari luar. Sifat plastis transparan inilah ketika di maknai dengan zaman kini bisa berarti sepandai-pandainya menutup atau menyimpan sesuatu pasti akan terlihat dan terbuka.
Seperti kasus-kasus kejahatan sekalipun berupaya menyimpan rapat bahkan bertahun tahun tak pernah tersentuh kini bisa terbuka secara gamblang. Paling nyata bagaimana ada suatu ajaran yang begitu dikemas sedemikian rupa dengan membuat benteng-benteng dengan berbagai aturan dari aturan yang lunak hingga keras. Tujuannya agar ajaran itu tetap terpelihara dan ada oknum-oknum yang bisa menikmati dari adanya ajaran ini.
Dulu siapa yang mencoba mengupas dan mempelajari secara mendalam tentang ajaran tersebut lalu menyampaikan dengan jujur tentang ajaran ini akan mengalami hukuman bukan saja penjara tetapi pengucilan bahkan pembunuhan.
Seperti bungkus plastik yang bisa dilihat isinya, kini ajaran itu bisa disaksikan dan dipelajari oleh siapa saja, tertutama di era digital dengan tehnologinya, dengan akses internet yang begitu berkembang, sangat mudah dilihat dan dimengerti. Belum lagi dengan program Artefisial intelegent (AI) dan Chatchibety, sangat mudah melihat suatu berita atau isi dari sebuah ajaran.
Di zaman plastik ini kebohongan yang dilakukan lambat laun pasti akan terbongkar. Ibarat kata, sepandai apa pun seseorang menyembunyikan bangkai, akhirnya akan tericium juga.
Jangan demi menjaga citra diri di hadapan publik dan dengan dalih gengsi, seringkali banyak orang tak jujur kepada dirinya sendiri apalagi kepada orang lain. Mereka lebih senang memakai topeng, daripada menunjukkan wajah aslinya. Padahal, semakin lama topeng-topeng tersebut mereka kenakan, semakin jauh mereka dari jati diri mereka.
Penulis Yusuf Mujiono
Pemimpun Majalah Gaharu