Walikota Bekasi DR. Rahmat Effendy : Penanganan Covid dan Banjir jadi Prioritas

Kilometer-Jakarta-Penanganan Covid 19 masih menjadi fokus dari pemerintah Kota Bekasi, perhatian utama bukan hanya pada pencegahan yang terus menerus mengingatkan masyarakat untuk mematuhi prosedur kesehatan dalam menjalankan aktivitasnya. Himbauan Walikota Bekasi DR. H. Rahmat Effendy disampaikan bersama pemuka agama dan tokoh masyarakat kota Bekasi  selasa (9/02) di Pendopo kantor walikota Bekasi.

Pemerintah kota Bekasi juga menaruh perhatian pada pasien covid19 dalam proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Bahkan pada beberapa kesempatan walikota Bekasi juga memantau kegiatan donatur plasma darah konvalesen di Palang Merah Indonesia kota Bekasi. Plasma darah konvalesen ini dimanfaatkan untuk terapi pasien covid19 dan menjadi pembentukan antibodi. “Meskipun ada peningkatan sedikit pasien covid19, kami tetap serius lakukan pencegahan penularan covid19 ini” ungkap Walikota Bekasi saat ditemui wartawan kilometer.co.id di gate 19 stadion Chandrabaga kota Bekasi minggu (21/02).

Terkait banjir yang melanda sebagian wiayah kota Bekasi pada tanggal 18, 19 dan 20 dan ini juga terjadi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Walikota Bekasi, Rahmat Effendi akan terus melakukan perbaikan dalam mengurangi kebanjiran kota Bekasi akibat curah hujan yang meningkat.

Menurutnya, penanganan banjir di Kota Bekasi, harus diselesaikan dari hulu sampai hilir. Untuk itu, penanganan banjir secara permanen, sedang dilakukan bersama Kementerian PUPR  segera rampung paket satu.

“Penyelesaian DAS (Daerah Aliran Sungai :red) sungai kali Bekasi adalah tahap satu dari kementerian PUPR itu pengerjaan dari Pertemuan Kali Cikeas dan Cileungsi sampai dengan Bekasi itu tahap satu pengerjaannya 2021 mudah-mudahan bisa diselesaikan,” jelasnya.

Untuk ini, kata Pepen panggilan akrabnya, sudah tersedia dana sejumlah 4 triliun lebih untuk pembiayaan revitalisasi. “Nantinya, akan dibagi tiga tahap, dan ini akan mengurangi beban volume air dari hulu,” ujar Pepen.

Perlu juga diketahui, kata Pepen, jika kota Bekasi punya topografi berbeda, diwaktu yang lampau kota Bekasi bekas sawah, rawa, dan perkebunan karet. “Tempat itu banyak sekali, seperti Rawa Tembaga, Rawa Pasung, Rawa Panjang, rawa lumbu dan segala macamnya,” katanya.

Seiring dengan waktu, kepadatan penduduk kota Bekasi terus bertambah, pembangunan hunian dan lahan semakin bertambah sempit ditambah urbanisasi terus berjalan. “Kepadatan penduduk hampir 16000 jiwa/kilometer persegi, sehingga itu memakan ruang, sementara seiring waktu curah hujan naik,” tandas Pepen.

Menurutnya, tidak ada cara yang lain selain menciptakan Embung (penampung air: red) yang cukup dengan kapasitas kota Bekasi. “Sayangnya harga lahan di kota Bekasi sudah mahal, kita butuh pembebasan lahan,” kata Pepen saat akan memimpin rapat.

Untuk itu, kata Rahmat, akan terus mencanangkan prioritas 60 persen APBD diperuntukkan penanggulangan banjir. “Sehingga 2-3 tahun kedepan banjir kota Bekasi bisa mencapai penurunan yang signifikan, bukan cuma berbagi sembako disaat kebanjiran tapi menyelesaikan penyebab banjirnya,” tegas Pepen.

Dia juga mencontohkan wilayah kebanjiran yang terparah seperti di Rawa Lumbu, perumahan Duta, Ngurah Rai Bekasi Barat mencapai 1,5 – 2 meter. “Kita sudah tetapkan lahan seluas empat hektar menjadi tangkepan,tanggul (long storage), kalau nggak begitu, tidak bisa,” tandasnya.

Rahmat Effendy komitmen diakhir masa jabatannya akan  mewarisi yang bagus di Kota Bekasi.Dan untuk itu butuh tindakan yang lebih struggle. (Endharmoko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *