PGN Gelar Thoriqoh Kebangsaan dan Sumpah Setia Mengawal Pancasila

Jakarta kilometer Thoriqoh Kebangsaan dalam mengawal Pancasila untuk keutuhan bangsa serta sumpah setia serta pembaretan  Patriot Garuda Nusantara (PGN) Pengurus Jakarta Barat yang digelar di Pondok Pesantren Wahid Soko Tunggal dibilangan Rawamangun Jakarta Timur, Jumat 8 Oktober 2021.

Kyai Haji Nuril Arifin Husein selaku Ketua Umum PGN yang akrab dipanggil Gus Nuril pimpinan Pompes serta Kepala Destamen 88 Polri Irjen. Pol. Martinus Hukom, S.I,K, M, Si serta jajaran pengurus PGN nampak semangat dalam acara tersebut.

Louis Pakaila Ketua Umum Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur (PMKIT) nampak di jajaran tamu undangan dalam acara pembaretan yang dilakukan langsung oleh Destasemen 88 Polri irjen Pol. Martinus Hukom S.I.Kk, M.Si ,

Gus Nurir yang sekaligus pengasuh Pompes Wahid Soko Tunggal  dalam sambutannya memerintahkan pada anggota dan jajaran pengurus PGN untuk tetap memegang teguh pada falsafah Pancasila serta NKRI, karena menurut Kyai yang sangat dekat dengan tokoh-tokoh lintas agama ini merasa masih ada ancaman pada idiologi dasar negara, berupa terorisme yang bisa merusak persatuan bangsa.

Oleh karenanya Gus Nuril mengajak PGN di seluruh Indonesia serta luar negeri untuk melawan dengan segenap jiwa raga bagi mereka yang ingin merubah dan membantu Polri dalam memerangi teroris dan radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia di mana menjujung tinggi Kebhenekaan.

Pada kesempatan tersebut Gus Nuril mengajak semua anggota PGN serta tamu undangan mendoakan negara dan bangsa serta pemimpin negara agar selalu dijauhkan dari segala mara bahaya, dan selalu dilindungi oleh Tuhan yang Maha Esa  agar masyarakatnya tetap menjadi bangsa yang selalu menjaga toleransi  dalam balutan Pancasila dalam Negara Kesatuan Ripublik Indonesia .

Sedangkan Kepala Densus 88 Irjen Pol Martinus Hukom pada kesempatan tersebut mengajak agar dengan acara ini ada ikatan kebangsaan yang kokoh dabn erat. Acara yang dihadiri lintas tokoh agama diharapkan  terus bergulir ke elemen masyarakat lainnya, Sehingga tidak ada lagi intoleran di negeri ini, dan  pada akhirnya mencintai Pancasila sebagai filosofi bangsa Indonesia.

Martinus juga mengajak untuk terus memerangi terorisme dan radikalisme karena bertentangan Pancasila. Kenapa, kalau seseorang dirasuki paham terorisme itu lebih berbahaya. Untuk itu perlu dicegah adanya paham terorisme yang karena paham ini muncul teroris sebagai pelaku.

Lalu bagaimana untuk melawan paham atau ajaran pemikiran yang bisa merubah seseorang untuk menjadi teroris caranya dengan pendekatan  (Soft Approch ) bagi yang terpapar, tetapi kalau memang sudah menjadi teroris lawannya ya senjata.

Keberadaan teroris ini sangat nyata seperti beberapa waktu yang lalu di mana densus 88 pernah menemukan bahan peledak 35 kg di bawah kaki gunung Ceremai Majalengka Jawa Barat, yang kemudian diketahui bahwa bom tersebut ternyata milik narapidana teroris yang ditahan pada tahun 2017, dengan cara menggunakan pendekatan sehingga bisa ditemukan bom berdaya ledak tinggi tersebut, tutup Martinus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *