Bimas Kristen Kemenag Gelar pelatihan Tokoh Agama Leadership Discovery

Kilometer-Jakarta, Awal tahun 2021 Presiden RI Joko Widodo menyampaikan bahwa pemerintah berencana memberikan pelatihan kepada penceramah dan pengelola rumah ibadah agar memiliki pemahaman terhadap pencegahan tindakan ektremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di masyarakat. Hal itu termaktub dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2021 (RAN PE).

Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Power Character mengadakan Program Pelatihan Tokoh Agama Character Leadership Discovery Program pada tanggal 3 Juni 2021 secara Virtual menggunakan Zoom yang diikuti hampir 800 Pemimpin Sinode dan Pimpinan Sekolah Tinggi Teologia.

Pada kesempatan ini Wakil Menteri Agama Haji Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si. yang didampingi Dirjen Bimas Kristen Prof Thomas Pentury, memberikan pengarahaan bahwa Indonesia memiliki keberagaman sehingga perlu moderasi agama dan menjadi sangat penting dalam kehidupan kebangsaan kita. Disaat pandemi ini kita perlu punya cara pandang yang baru dan menjadi anak bangsa yang santun, toleran, mampu berdialog dengan keragaman yang ada.

Dalam pelatihan ini nara sumber mengemukakan pandangan Pancasila dalam persfektif kebenaran Alkitab sebagai berikut:

Pembahasan sila pertama, Dr. Jakoep Ezra, D.B.A., D.Th. Founder Power Character memaparkan tentang 10 prinsip kebenaran Ketuhanan Yang Maha Esa, agar setiap kita tetap sadar akan kedewasaan rohani (spiritual quotient) agar tidak sampai terperangkap terhadap 3 (tiga) racun spiritual (keinginan daging, keangkuhan hidup, keinginan mata) dengan cara melatih roh supaya kuat dan taat kepada Kristus.

Sesi sila kedua Dr. Insinyur Bob Foster Sinaga, M.M. Founder Ganesha Operation & Rektor Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia. Membawa para pemimpin untuk sejenak melihat kilas balik terhadap peristiwa kemanusiaan, banyak tragedi yang tidak memanusiakan manusia, pelanggaran HAM terjadi dari tahun ketahun terus menerus bahkan banyak tanpa penyelesaian. Bahwa dalam butir Sila ke-2 Pancasila mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang maha Esa. Manusia memiliki hak asasi yang dilindungi oleh undang-undang. Sehingga Gereja perlu mengambil peranan penting dalam membentuk moral bangsa lewat pendidikan kehidupan dan spiritual. Gereja mengajarkan kasih sebagai fondasi karena kasih lebih esensi daripada perbedaan.

Pada sesi sila ketiga Dr. Antonius Natan, M.Th. Staf khusus Ketum PGLII  dan Sekum PGLII DKI memberikan pandangan bahwa sebagai gereja dan umat kristiani perlu menyadari bahwa nilai injil bersatu dengan nilai pancasila sebagai pedoman bersikap. Cara kita mempraktekkan persatuan ini dimulai dari hubungan kita berkeluarga, bahwa para-ayah bertindak sebagai bapak memimpin keluarga, hubungan ayah-anak adalah inti semesta. Gereja telah memulai kesatuan dalam doa bagi bangsa. Selain itu gereja dan umat Kristiani peduli lingkungan dan bersahabat dengan tetangga, sebagai pola kebersamaan dan bersatunya umat dengan masyarakat. Gereja berdampak bagi lingkungan dan kotanya. Gereja memiliki peran mengajarkan mencintai firman Tuhan yang juga memiliki arti mencintai tanah air dan negara. Mencintai tanah air dan kuasa membentuk karakter bangsa ada di pundak gereja dan kita semua sebagai orang Kristen.

Setelah rehat sejenak dilanjutkan sesi sila keempat Dr. Alexander Djuang Papay, M.Th. Ketua BKUKIN – Den Haag & Founder Aquila Center Belanda. Mengatakan bawa Ideologi dan falsafah Pancasila menjaga keberlangsungan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Negara kita perlu stabilitas ekonomi, politik, keamanan, dan terjaminnya hak-hak masyarakat mayoritas & minoritas. Dalam prakteknya kita perlu menghindari sikap radikalisme seperti: revolusioner, fanatik, eksklusif, dan intoleransi. Budaya bangsa mengutamakan musyawarah, menghormati keputusan musyawarah. Perlunya itikat baik untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi/golongan. Nilai-nilai Pancasila ditanamkan sejak dini dalam gereja dan para pemimpin berani berdiri atas kebenaran untuk Indonesia. Jemaat dan pemimpin menghidupi nilai kebenaran dan Pancasila

Pada sesi akhir sila kelima Profesor. Hoga Saragih, S.T., M.T. Alumni Lemhanas PPSA XXII & Kaprodi Informatika – Universitas Bakrie. Menyampaikan bahwa keadilan merupakan suatu keputusan yang berat dan sulit, berbagai peristiwa di tanah air yang terjadi membuktikan bawa keadilan tidak dipraktikkan. Sehungguhnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara keadilan harus di dipraktikkan, tidak sekedar teori saja. Maka manusia harus dekat dengan Sang Pencipta, karena hikmat berasal dari Tuhan, dan menyatakan bahwa adil itu adalah pemberian Tuhan. Menjadi perenungan bersama apakah kita adil terhadap diri sendiri? Kita bersama perlu menerapkan model keadilan distributif dan keadilan komutatif.

Peserta begitu antusias mengikuti kegiatan ini dari pagi hingga siang, dan bagi para peserta yang mengikuti dan mendaftar tidak sekedar mendengarkan webinar saja, melainkan mendapat kesempatan untuk mengikuti Foto karakter, agar mampu memahami dan melakukan respon yang benar terhadap kelemahan dan titik kritis sebagai pemimpin dan tokoh agama. Dan Power Character juga memberikan kesempatan konsultasi one on one bagi peserta terdaftar di Bimas Kristen Kemenag RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *