Pelayanan di Pedalaman dari Polotua Simbolon di Kuala Kurun Kalimantan Tengah

Palangkaraya, kilometer.co.id – Perjalanan dari bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya menuju Kuala Kurun di Kabupaten Gumas (Gunung Mas) Kalimantan Tengah berjarak 176 kilometer dari pusat kota Palangkaraya atau menyita waktu 2 hingga 3 jam akses jalan darat dengan kendaraan biasa. Kuala kurun merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Kapuas tahun 2003, yang usia kabupaten ini baru menginjak 16 Tahun.

Tim pelayanan yang dikomandani oleh Polotua Simbolon berencana melakukan kunjungan ke gereja-gereja kecil di pedalaman Kalimantan tengah. Polotua Simbolon di usianya yang sudah 75 tahun terlihat masih penuh semangat melakukan kunjungan rutin ke wilayah ini, setidaknya dua kali dalam setahun dikunjunginya gereja-gereja ini, sekalipun dengan jarak tempuh yang cukup jauh dengan medan pelayanan yang tidak mudah.

Pekan lalu Polotua Simbolon bersama beberapa orang kembali mendatangi Kalimantan Tengah tepatnya di di desa Muara Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Bagi Polotua Simbolon menempuh perjalanan  cukup jauh dengan menempuh situasi di perjalanan berbatu dan tak beraspal, dengan jarak puluhan kilometer, tentu bukan hal yang mudah. Kondisi jalan yang berlubang dan ancaman longsor masih kerap terjadi.

Namun demikian tak menghentikan langkahnya untuk tetap membagi kasih dengan jemaat suku Dayak di pedalaman terutama membantu pembangunan gereja. “Banyak jemaat pedalaman yang mau membangun gereja, tetapi kesulitan menyelesaikan bangunan. Kedatangan saya sifatnya hanya membantu gereja bangkit berdiri dalam membangun tempat ibadah, dengan apa yang saya lakukan diharapkan banyak orang terinspirasi dan mau mempedulikan jemaat-jemaat di pedalaman”, ungkapnya semangat .

Lokasi yang cukup jauh maka dibutuhkan stamina, sebelum melanjutkan perjalanan ke pedalaman di Kalteng. Tim pelayanan terdiri dari  lima orang dari Jakarta dan Polotua Simbolon sebagai koordinator. Ada Samsudin Manulang,  Rizma Simbolon, Rita Hargita, dan satu wartawan Yusuf Mujiono. Dari Palangkaraya tercatat Junaidi, Yasco dan Sukawati.

Kurang lebih dua jam perjalanan tibalah di GBI Kampuri. Nampak bangunan gereja berdinding batako, belum ada atap serta pintu dan jendela dengan ukuran  10 x 20 m2, nampak lantainya ditumbuhi rumput yang lebat. “Sudah empat tahun bangunan ini belum selesai,” terang Pdt Sapta Numai mengawali bincang malam itu. Sapta melanjutkan bahwa dirinya masih sekitar setahun memegang jemaat GBI tersebut menggantikan gembala yang lama.

Melihat warisan bangunan yang masih mangkrak tentu ada keprihatinan tersendiri, karena tak ada bantuan dari pusat maupun dari pihak-pihak lain. Sementara kehidupan jemaatnyapun masih pas-pasan, tak mungkin bisa menyelesaikan bangunan gereja ini dalam waktu cepat, ujarnya. Disebutkan, kalau dulu bisa membangun awalnya karena mendapat bantuan  dana desa 20 juta. Bantuan itulah kemudian dipakai membangun gereja. Namun apa daya ternyata belum bisa terselesaikan hingga rampung. Selama empat tahun itulah kalau  pembangunan tempat ibadah ini terhenti.

GBI Mawar Saron desa Kampuri, Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, demikian nama gereja tersebut, bersama tim malam itu mengadakan ibadah, sekitar lima belas orang. Polotua Simbolon dalam kotbahnya tegas mengatakan, banyak orang hanya membaca firman satu dua ayat lalu mencoba menjabarkannya. “Padahal bukan itu harusnya, tetapi membaca dan mengerti apa yang dimaksud firman itu. Karena itu, jemaat harus diberi pengajaran yang benar dengan mendasari apa yang sudah ada dalam Alkitab.

Di akhir ibadah, Polotua  Simbolon menyerahkan bantuan sejumlah dana untuk membantu membangun gereja, tak ketinggalan juga menyerahkan uang titipan perpuluhan dari salah satu orang yang juga memiliki kepedulian untuk pembangunan gereja di pedalaman. Melihat realita kesuliatan di pedalaman, bagaimana seorang pendeta harus berjibaku melayani jemaat yang rata-rata masih hidup dalam taraf ekonomi di bawah rata-rata.

“Untuk memenuhi kebutuhan saja masih pas-pasan apalagi harus memberi persembahan untuk gereja dan juga pendetanya. Seperti apa yang diungkapkan pdt Sapta Numai, bahwa apa yang diterima malam ini sungguh suatu anugerah. “Karena Tuhan mengirimkan Pak Simbolon untuk menjawab doanya, agar gereja dapat segera kembali melanjutkan pembangunan, dengan harapan Natal nanti sudah bisa dipakai untuk ibadah perayaan Natal.” [RA]

Bagi anda yang terbeban untuk membantu pelayanan gereja-gereja di pedalaman dapat memberikan dukungan dana pelayanan melalui : Rekening BNI : 0008332552   a.n.  Polotua Simbolon  

1 thought on “Pelayanan di Pedalaman dari Polotua Simbolon di Kuala Kurun Kalimantan Tengah

  1. Semoga dapat menggugah hati para jemaat Tuhan di kota-kota besar untuk menyapa saudara-saudara seiman di pedalaman. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *