Pdt Stefanus Liong Melepas Ilmu Kebatinan untuk Dipakai Tuhan Melayani di Ladang-Nya

Tangerang Selatan, kilometre.co.id – Hidup manusia dapat berubah kapan saja jika Tuhan menghendaki. Jatuh dan bangun di dalam kehidupan manusia telah Tuhan atur sedemikian rupa, agar kita selalu mengingat bahwa Dia-lah yang empunya kuasa atas perjalanan takdir. Demikianlah yang terjadi di dalam kehidupan dari hamba Tuhan bernama Pdt. Stefanus Liong. Stefanus bercerita tentang bagaimana hidupnya dipakai Tuhan untuk menyatakan kesembuhan bagi banyak orang. Padahal, tadinya dia merupakan seorang penganut ilmu kebatinan.

Stefanus memang dilahirkan dan besar di tengah keluarga yang belum mengenal Yesus. Setiap anggota keluarga menapaki jalan hidup kepercayaannya masing-masing. Stefanus muda kemudian memilih aliran kebatinan sebagai pemuas dahaga pencarian jati dirinya ketika itu. Ritual bertapa di wilayah pekuburan hingga gunung yang terkenal angker di Jawa Timur menjadi panggilan wajib yang mesti dilakoninya sebagai pengikut. Terlebih, Stefanus berguru pada sebuah aliran yang namanya cukup tersohor. Tingkatan demi tingkatan dilalui, bahkan dia sempat dipercaya menjadi tangan kanan sang guru, juga ditunjuk sebagai juru kunci dari sebuah gunung di pulau. Tugasnya menyiapkan sejumlah ternak yang akan dipotong di malam paling keramat, sebagai semahan. “Di malam itu banyak orang yang mau mencai kesaktian maupun harta. Jadi tugas saya mempersiapkan kambing yang mulus dan ayam jago. Tidak boleh ada yang cacat,” jelas Stefanus kepada kilometer.co.id dan beberapa rekan media yang bertamu di kediamannya, Sabtu siang (09/03/2019).

Ilmu pukulan jarak jauh dan menumbangkan banyak orang hanya menggunakan satu gerakan menjadi beberapa keahlian yang dimiliki Stefanus. Stefanus mengisahkan, berkat kesaktian itu pula dirinya sering diminta untuk mengajar di berbagai tempat bahkan oleh salah satu korps pasukan elit Indonesia. Delapan belas tahun lamanya Stefanus menjalani hidup sebagai orang yang tidak mengenal Tuhan. Selama itu pula dia meyakini bahwa apa yang telah dilakukannya merupakan bagian dari keselamatan diri. Hingga suatu ketika dia diperkenalkan kepada Yesus sang “Juru Selamat” yang sejati , melalui perantaraan seorang hamba Tuhan. “Saya dibaptis di Abbalove. Saya sudah lepas semuanya,” kata Stefanus.

Walau telah menjadi pengikut Kristus, sempat ada sebuah keraguan di lubuk hatinya yang paling dalam. Pertanyaan tentang apakah ilmu yang pernah dipelajarinya telah lepas menyeluruh, selalu mengganggu pria kelahiran Bangka, ini. Bersama dengan sang istri, Stefanus lalu menyambangi seorang hamba Tuhan untuk menjalani doa pelepasan dari sisa ilmu yang ada. “Saya sampai ragu, waktu saya dibaptis (kembali). Saya tidak mau lagi menganut ilmu itu. Memang kalau kita bertobat harus sungguh-sungguh. Tapi Puji Tuhan (ilmu itu) sudah tidak ada,” ungkapnya.

Diberi Kuasa Penyembuhan

Pertobatan yang dijalani Stefanus Liong makin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Stefanus memutuskan untuk menjadi penginjil penuh dan melayani di berbagai gereja dari lintas denominasi. Tuhan juga memanggilnya untuk meluaskan pelayanan melalui lembaga gereja sekaligus menjadikan perantara dari kesembuhan ilahi. “Suatu hari saya bertemu dengan bapak Ketua Sinode kami, Bapak Pdt. Dr. Gunadi M.Th. dia bilang, ‘Ayo bikin gereja supaya banyak jiwa bisa diselamatkan’. Saya pikir ini adalah ajakan bagus. Karena saya penginjil, saya tidak pikir-pikir banyak ketika disuruh seperti itu. Jalan saja, tidak banyak pikir-pikir,” ungkap gembala dari Gereja Bethel Pembaruan Bukit Sion, itu.

Dalam perjalanan pelayanan, Tuhan memakai tangan Stefanus untuk menyatakan kuasa kesembuhan ilahi.  Suatu hari seorang kolega yang dikenalnya didagnosa mengidap kanker prostat stadium empat. Pria bernama Rusmin itu telah menjalani pengobatan hingga ke Hongkong dan Taiwan, hingga mengalami keputusasaan karena tak kunjung memperoleh kesembuhan. “Saya bilang, ‘Om kita berdoa saja. Apakah om percaya Tuhan Yesus?’ kata saya. ‘Iya percaya’ kata dia kemudian. Akhirnya saya berdoa dan saya layani perjamuan kudus namun dengan satu syarat, pak Rusmin harus berdoa terutama Doa Bapa Kami. Lalu saya minta beliau setiap hari di kamar mandi untuk membaptis tubuhnya dengan kata-kata ‘Dalam Nama Tuhan Yesus! Hai sakit penyakit kamu tidak berkuasa atas tubuh saya. Keluarlah dari tubuh saya, karena tubuh saya milik Tuhan Yesus’,” kenang Stefanus.

Empat puluh hari kemudian Rusmin menelepon Stefanus dari Kota Taichung, Taiwan. Rusmin berkata tak sanggup lagi menahan rasa sakit hingga merasa ajalnya telah dekat. Rusmin akhirnya memutuskan untuk menyerah dan memilih dioperasi. Mendengar hal itu, Stefanus kembali mengajak koleganya untuk berdoa. “Ya sudah kita doa saja ya sama-sama, kata saya ke pak Rusmin. Mungkin itu sudah kehendak Tuhan untuk dioperasi. Akhirnya dia masuk rumah sakit untuk dioperasi,” ucapnya.

Sebelum memasuki ruang operasi, ternyata tim dokter menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Hasil pemeriksaan terhadap Rusmin menunjukan bahwa kanker yang dideritanya telah menghilang begitu saja. Mukjizat terjadi. “Dokter di sana juga sampai bingung, padahal mereka punya data (rekam medis)nya,” ungkap Stefanus lagi. Dari situlah Stefanus kemudian percaya, bahwa kesembuhan terjadi bukan karena kehebatan pribadi seseorang, melainkan iman dan ketaatannya kepada firman Tuhan. Berkat pelajaran berharga itu pula, kini Rusmin memutuskan untuk fokus melayani Tuhan. “Dia percaya, dan akhirnya sekarang dia buka persekutuan di Hongkong. Jadi bersama dengan sang istri, para gelandangan dikumpulkan untuk dilayani,” imbuh Stefanus mengenang.

Sempat Lupa Diri

Tuhan mempertemukan Stefanus dengan banyak orang baru melalui dunia pelayanan. Tak sedikit yang orang-orang yang disembuhkan Tuhan dari beragam penyakit dan gangguan kuasa jahat melalui perantaraan Stefanus. Pernah suatu ketika seorang mantan paranormal yang terkenal sakti karena diyakini bisa mendatangkan rezeki dan kesembuhan justru jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan. “Hanya ngesot di lantai karena tidak bisa jalan. Lalu saya tawarkan, ‘Pak, bapak mau tidak kita berdoa sama-sama menurut ajaran agama masing-masing?’ Dia mau,” cerita Stefanus.

Merasa tidak punya kekuatan apapun selain doa, Stefanus berpura-pura menggunakan seruas jahe sebagai medium penyembuhan. Dengan jahe dan minyak urapan yang dibawanya, Stefanus menggunakan sebuah kalimat yang penuh kuasa sembari memohon agar Tuhanlah yang memberikan kesembuhan kepada mantan paranormal itu. “Dalam Nama Yesus! Kemudian saya berdoa. Habis berdoa saya ajak orang tersebut untuk berdiri tetapi tidak bisa,” jawabnya. Stefanus mengulang cara yang sama hingga tiga kali, namun tidak terjadi perubahan. “Begitu yang keempat kali, dia jalan,” kata Stefanus kepada kilometer.co.id.

Dari peristiwa tersebut muncul rasa sombong di dalam hati kecil Stefanus. Hati yang tadinya merendah dan selalu meminta bimbingan Tuhan dalam setiap penyembuhan, berubah menjadi angkuh dan merasa bahwa dirinyalah yang berperan sebagai penyembuh utama. Hingga suatu ketika datang undangan KKR (Kebaktian Kebangkitan Rohani) dari sebuah daerah yang terletak di Lampung, Stefanus menganggap memberikan kesembuhan merupakan perkara mudah dan sudah menjadi keahliannya. “Tinggal bilang, Dalam Nama Yesus! Tetapi sampai sepuluh kali saya bilang, peserta KKR itu tidak bangun-bangun. Dari situlah saya jadi malu dan bertobat,” jawabnya dengan nada penyesalan. Sungguh, dari kejadian itu Stefanus merasa sangat malu kepada diri sendiri. Pada akhirnya dia makin dalam memahami semua kesembuhan hanya bisa terjadi hanya karena kuasa Tuhan. Dari kejadian ini pula dia berkaca bahwa menjadi seorang pelayan membutuhkan hati yang mau merendah, terutama di hadapan Tuhan.

Saat ini Stefanus terus melayani melalui Gereja Bethel Pembaruan Bukit Sion. Tak terasa sudah 11 tahun Tuhan memercayakannya tugas sebagai seorang gembala di tempat itu, dan tetap menjalani pelayanan sebagai pendoa bagi orang-orang yang sakit. Dia pun berkerinduan untuk makin meresapi kehendak Tuhan, bahwa tugas seorang hamba adalah menjadi pelayan bagi banyak orang tanpa menghiraukan kepentingan diri sendiri. “Hamba Tuhan janganlah mementingkan diri sendiri. Jadi dia harus menyalurkan uang perpuluhan yang dia dapat, karena sebetulnya itu bukan milik dia semua. Milik yatim piatu, janda-janda, milik orang miskin. Gunakan juga untuk penginjilan dan terutama untuk memberdayakan jemaat dia,” Dan tak lupa Stefanus Liong juga mengundang bila ada yang berdomisili sekitar Cisauk dan Serpong dan belum berjemaat tetap, “Mari datang melayani bersama di GBP  Bukit Sion pada setiap minggu ada perjamuan kudus dan minyak urapan.” katanya menyudahi perbincangan. [RP]

 

Dan beberapa karyanya Pdt. Stefanus Liong bisa dinikmati hanya dengan meng-klik beberapa link ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *