Dua pelaku usaha penusukan Menko Polhukam Jendral (Pur) Wiranto diduga terpapar radikalisme agama. Peran ulama sebagai guru dan teladan agama perlu makin ditingkatkan.

Kilometer.co.id Jakarta Pengamat intelijen dari Generasi Optimis (GO) Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga, mengaku setuju dengan wejangan K.H. Ma’ruf Amin terkait peningkatan tanggung-jawab ulama di tanah air pada masa sekarang.

Horas mengatakan setidaknya ada tiga tanggung-jawab ulama, yaitu dalam bidang agama, keumatan, dan kebangsaan atau kenegaraan, Jakarta (13/10/2019).

“Yang pertama, tanggungjawab keagamaan, di sini Abah Kiai Ma’ruf mengingatkan agar ulama selalu menjaga agama dari salah penafsiran yang menyimpang,” kata Horas.

Ini termasuk meluruskan kebodohan dan kesesatan kaum radikal dan intoleran, sambungnya.

“Kedua, tanggung-jawab keumatan. Yaitu menjaga umat dari akidah-akidah yang salah. Menjaga umat agar kuat secara pendidikan, ekonomi dan kesehatan,” ujar Horas.

Ia menambahkan, “Ketiga, tanggungjawab kebangsaan dan kenegaraan. Ini tanggungjawab yang penting dalam konteks hidup berbangsa, yaitu menjaga negara Indonesia dari ideologi-ideologi lain di luar konsensus nasional.”

Tiga tanggung-jawab ulama itu sendiri terucap pada pidato Ma’ruf Amin di Haul Akbar di Ponpes Al Ishlahuddiny, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dalam rangkaian kegiatan Wakil Presiden terpilih itu di Nusa Tenggara Barat, 10 – 13 Oktober 2019.

Bagi Horas Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati yang tak bisa ditawar dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya.

“Abah Kiai Ma’ruf bahkan dengan tegas mengatakan bahwa khilafah bukan ditolak tapi memang tertolak sejak dari awal karena tidak sesuai dengan kesepakatan untuk membangun bangsa yang besar dan majemuk oleh para founding fathers negara kita,” tegas Horas lagi.

Horas mengimbau semua pemeluk agama untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

“Indonesia ini plural. Tuhan yang menjadikannya demikian. Jadi kita harus saling menghargai. Biarlah kita menjalankan ibadah masing-masing, tanpa menyinggung agama-agama lain dan marilah kita saling mengasihi sesama anak-anak ibu pertiwi nusantara”, ujar Horas Sinaga.

“Kita serius beragama itu bagus, tapi jangan menjadikan negara Indonesia sebagai negara agama yang kita anut,” pungkas Horas menegaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *